NADIKABAR.COM — Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp18.060 per dolar AS pada perdagangan Kamis (22/10). Mata uang Garuda terkoreksi 38 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,04 persen dan dolar Singapura naik 0,04 persen.
Yen Jepang menguat 0,74 persen, won Korea Selatan terapresiasi 0,42 persen, dan dolar Hong Kong naik 0,07 persen.
Sementara itu, peso Filipina melemah 0,27 persen dan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,30 persen.
Di antara mata uang negara maju, euro menguat 0,01 persen dan poundsterling Inggris naik 0,09 persen. Sebaliknya, dolar Australia terkoreksi 0,17 persen. Adapun dolar Kanada menguat 0,21 persen dan franc Swiss terapresiasi 0,61 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah terjadi meskipun sentimen domestik secara umum membaik.
Tekanan terhadap rupiah antara lain berasal dari aksi jual bersih investor asing serta kenaikan harga minyak dunia di tengah kekhawatiran eskalasi geopolitik.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, tertekan oleh aksi jual bersih investor asing meskipun sentimen domestik secara umum membaik. Kenaikan harga minyak dunia akibat kekhawatiran eskalasi geopolitik, serta laporan mengenai persiapan serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, turut membebani rupiah," ujar Lukman kepada NadiKabar.com.