Said turut menyinggung transaksi investor asing ketika pasar saham mengalami tekanan pada 16 Oktober 2026. Ia menyebut investor asing membeli saham di BEI hingga Rp9,18 triliun saat IHSG terpuruk akibat pengumuman MSCI.

Said menegaskan tidak menuduh MSCI sengaja menjatuhkan harga saham untuk memberikan keuntungan kepada investor tertentu. Namun, ia menilai dampak kebijakan tersebut perlu dicermati karena dapat membuka peluang keuntungan bagi pelaku pasar, termasuk *hedge fund*.

"Tentu saja saya tidak menuduh lembaga sekaliber MSCI bersindikasi menjatuhkan harga IHSG, dan memberi jalan investor asing untuk profitaking. Namun fakta yang sulit kita pungkiri, sadar atau tidak, kebijakan MSCI menguntungkan hedge fund," tulisnya.

Ia pun mempertanyakan konsistensi pendekatan MSCI. Jika pengaturan harga saham dianggap merugikan investor, menurut Said, keputusan lembaga pemeringkat yang berdampak besar terhadap pergerakan pasar juga patut dievaluasi.

Bagi Said, kritik terhadap MSCI bukan berarti menolak pembenahan pasar modal. Ia justru menekankan pentingnya menemukan persoalan mendasar di BEI tanpa mengabaikan dampak dari proses perbaikannya.

Ia mengibaratkan upaya membenahi pasar modal Indonesia seperti mencari jarum di tengah persawahan dengan padi yang menguning. Jarum itu tetap harus ditemukan, tetapi proses pencariannya jangan sampai merusak padi yang sedang tumbuh.

"Memperbaiki pasar modal Indonesia laksana mencari jarum di persawahan dengan padi yang menguning. Mari kita temukan jarumnya, tetapi padi yang menguning tidak rusak karena terinjak injak saat mencari jarum," tulis Said.