NADIKABAR.COM — Salju abadi yang pernah menyelimuti Puncak Jaya, pegunungan Carstensz di Papua, Indonesia, diperkirakan akan menghilang tak lama lagi. Prediksi waktunya semakin mendekati.

Sebagai satu-satunya gletser tropis di seluruh Asia Tenggara, gletser-gletser ini telah mengalami penurunan yang stabil selama beberapa dekade. Sejak 1980, Papua telah kehilangan empat dari enam lapisan es permanennya seiring dengan meningkatnya suhu global.

"Es itu akan hilang, bukan soal apakah akan hilang, tetapi soal kapan," kata Klaus Thymann, seorang penjelajah dan pembuat peta asal Denmark yang memetakan gletser terakhir yang tersisa di Papua, awal tahun ini, dikutip dari Guardian.

Dalam laporan berbeda, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga sudah memperkirakan es abadi yang telah bertahan ribuan tahun itu diperkirakan akan hilang sepenuhnya pada awal 2027.

"Sulit dipercaya, tapi mungkin kita adalah generasi terakhir yang masih sempat melihat es abadi di Indonesia," kata BMKG melalui media sosialnya, pada Juli lalu.

"Menurut pakar klimatologi BMKG, lapisan es di Puncak Jayawijaya diperkirakan hilang total pada akhir 2026 atau awal 2027," imbuh BMKG.

Bagi kebanyakan dari kita, gletser bukanlah hal pertama yang terlintas di pikiran ketika kita memikirkan daerah tropis. Berdiri di hutan hujan yang panas dan lembap lalu mendongak untuk melihat kilauan es di antara pegunungan terasa tidak sesuai. Namun, hal ini dapat ditemukan di Andes, Afrika bagian timur, dan Indonesia.

Sebanyak 95% gletser tropis berada di Pegunungan Andes. Sebagian besar ditemukan di pegunungan Peru, dan gletser-gletser ini juga membentang ke utara menuju Ekuador dan Kolombia.

Di Afrika, di perbatasan antara Republik Demokratik Kongo dan Uganda, terdapat gletser Dataran Tinggi Stanley. Sejak 2020, gletser ini telah kehilangan 3% dari luas permukaannya. Penyusutan ini menandai ancaman serius terhadap keamanan pasokan air bagi masyarakat setempat.

Sedangkan di Asia Tenggara, gletser lebih sulit ditemukan. Karenanya gletser di Carstensz, Puncak Jaya menjadi satu-satunya. Ini adalah gletser tropis terakhir yang tersisa di antara Pegunungan Andes di timur dan Pegunungan Himalaya di barat.

Gletser Carstensz di Papua terletak di sub-puncak Puncak Jaya, yang menjulang hingga ketinggian 4.884 meter. Dikenal oleh penduduk setempat sebagai 'salju abadi', gletser ini telah lama memiliki makna spiritual dan penghormatan yang mendalam.

Sekitar 100 tahun yang lalu, seluruh pegunungan itu tertutup es permanen di keempat puncaknya, tetapi sekarang hanya tersisa dua bagian saja. Sejak 1800-an, luas es di Puncak Jaya telah berkurang dari sekitar 1.900 hektar menjadi hanya 16 hektar. Sejak 2002, diperkirakan luas es tersebut telah berkurang hingga 95%.

"Dari sudut pandang filosofis, kita ambil konsep keabadian, sesuatu yang abstrak, konstruksi manusia, dan bahkan sekarang kita sedang menghancurkan konstruksi kita sendiri," kata Thymann kepada Guardian.

"Menurut saya, ini menimbulkan beberapa pertanyaan yang sangat menarik, seputar betapa kecilnya kita di skala waktu geologis, dan seberapa besar kekacauan yang telah kita ciptakan dalam waktu yang begitu singkat," cetusnya.

Diperkirakan sisa es tersebut akan menghilang sepenuhnya dalam beberapa tahun ke depan. Penyebab menghilangnya es ini sama dengan penyebab yang memengaruhi semua gletser lain di seluruh dunia.

Pemanasan iklim yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil berarti titik beku bergeser semakin jauh ke lereng gunung, hingga akhirnya mencapai titik di mana tidak ada lagi gunung tempat air dapat membeku.

Hal ini juga berarti lebih banyak curah hujan turun sebagai hujan alih-alih salju, yang menyebabkan gletser mencair dan akhirnya runtuh. Hal semacam ini diyakini sebagai faktor penyebab runtuhnya gletser di Nepal yang menyebabkan banjir dahsyat pada akhir Agustus lalu. Dengan El Nino yang terus meningkat di Samudra Pasifik, tampaknya hanya ada sedikit harapan untuk lanskap yang dulunya abadi ini.