NADIKABAR.COM — Limbah organik bisa diolah menggunakan teknologi yang diklaim mampu mengurangi massa material hingga 80% dalam waktu 24 jam. Teknologi ini ditujukan untuk membantu pelaku usaha mengelola sampah langsung dari sumbernya sebelum dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Direktur PT Wannan Inti Teknologi Jeremy Wijaya mengatakan, pengolahan sampah sejak dari sumbernya dapat mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan konvensional.
"Semakin besar sampah atau limbah organik yang diolah lebih awal, maka semakin kecil ketergantungan kita terhadap tempat pembuangan akhir," ujar Jeremy dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Teknologi yang diperkenalkan perusahaan tersebut bernama *biochemical chamber*. Mesin ini dirancang untuk mengolah sampah organik dalam siklus 1 x 24 jam, dengan kapasitas input mulai dari 30 kilogram hingga 120 ton per hari, bergantung pada model dan spesifikasi unit.
Dalam contoh yang dipaparkan perusahaan, pengolahan 120 ton material menghasilkan sekitar 24 ton material olahan. Dengan demikian, massa material berkurang sekitar 80% selama proses pengolahan.
Menurut Jeremy, hasil pengolahan tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai media tanam, membantu menstabilkan pH tanah, dan mendukung reklamasi lahan.
Meski begitu, manfaat ekonomi teknologi ini bergantung pada sejumlah faktor, termasuk biaya investasi mesin, konsumsi energi, biaya operasional, serta kualitas dan pemanfaatan hasil olahan.
Teknologi tersebut diperkenalkan dalam seminar yang digelar PT Wannan Inti Teknologi bersama PT Indonesia Environment Consultant di rangkaian ALLPACK INDONESIA EXPO 2026. Pengolahan limbah dari sumbernya dinilai relevan bagi sektor hotel, restoran, industri makanan dan minuman, serta kawasan komersial yang menghasilkan sampah organik.
CEO PT Indonesia Environment Consultant E. Kurniawan Padma mengatakan pengolahan sampah perlu terhubung dengan penggunaan kembali dan pemulihan material agar mendukung ekonomi sirkular.
"Kita ingin produksi berkelanjutan melalui konsumsi yang bertanggung jawab, penggolongan, pengolahan dan juga daur ulang serta pemulihan material," kata Kurniawan.
Namun, pengurangan massa sampah tidak otomatis berarti seluruh material dapat dimanfaatkan kembali atau menghasilkan keuntungan. Kesesuaian teknologi dengan jenis sampah, biaya pengolahan, dan kepastian penggunaan hasil olahan tetap perlu diperhitungkan oleh pelaku usaha.