Perkembangan ini membawa pesan penting. Pesantren tidak harus memilih antara menjaga tradisi keilmuan Islam dan menyambut kemajuan teknologi. Keduanya dapat berjalan bersama, selama teknologi ditempatkan sebagai alat untuk memperluas manfaat ilmu, bukan menggantikan akhlak, nalar, dan tanggung jawab manusia.

Pertanyaan yang lebih mendasar ialah bagaimana pembelajaran AI dan robotika dapat berkembang dari kegiatan percontohan menjadi kemampuan yang berkelanjutan, menjangkau lebih banyak santri, dan menghasilkan inovasi yang berguna bagi masyarakat.

Pengalaman di Dalwa menunjukkan bahwa santri dapat memasuki bidang teknologi yang kerap dianggap jauh dari kehidupan pesantren.