NADIKABAR.COM — Tim Satgas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Jambi selama sebulan terakhir berjibaku memadamkan api di lahan gambut dan berhasil menembus akses menuju arah titik api melalui kawasan Sungai Benuh, Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS).

Kepala pelaksana (Kalaksa) Satgas Karhutla Jambi Bachyuni Deliansyah di Jambi, Kamis, mengatakan saat ini tim terus berusaha untuk bisa masuk dan sampai ke titik terdekat sumber api di lahan gambut kawasan TNBS tersebut, dan saat ini baru alat berat yang bisa masuk untuk membuat sekat bakar serta membersihkan kanal agar airnya bisa di gunakan untuk pemadaman di sana.

Kemudian, Satgas Karhutla Jambi juga sedang melakukan mitigasi untuk melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di atas lahan TNBS dan mudah-mudahan bisa dilaksanakan dalam waktu dekat agar hujan bisa turun, sehingga proses pemadaman lebih singkat.

"Untuk lahan gambut di TNBS, Satgas melakukan segala upaya pemadaman, baik lewat darat, udara seperti OMC dan water bombing agar karhutla bisa segera dipadamkan," katanya.

Sementara itu, FOM Head PT PDIW, Alex Fatra mengatakan operasi di TNBS berlangsung sejak 25 Agustus lalu, dimana Satgas Karhutla Jambi bersama Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT PDIW dan PT Tripupa Jaya (TPJ) berhasil membuka akses sampai ke sumber api.

"Tim gabungan langsung membuat sekat bakar, pemadaman langsung, pendinginan, pembangunan embung dan pengerahan peralatan untuk mendekatkan personel ke lokasi kebakaran dan terbukanya jalur menuju area titik api menjadi perkembangan penting setelah operasi panjang di medan gambut yang sulit dijangkau," katanya.

Selama 36 hari tim terus berupaya membuka akses di tengah kondisi gambut yang lembut, banyak kayu rebah, serta medan yang sulit dijangkau, dan akhirnya jalur terbuka menuju area sumber titik api dan menjadi perkembangan penting.

Tetapi, operasi belum selesai. Perusahaan bersama Satgas Karhutla dan seluruh unsur di lapangan terus melanjutkan pemadaman, pembuatan sekat bakar dan pengamanan area agar kebakaran dapat dikendalikan.

Upaya penanganan diperkuat sejak 22 September 2026, dengan pengerahan puluhan personel gabungan, alat berat, pompa pemadaman serta dukungan udara. Dalam rangkaian operasi tersebut, tim telah membuka lebih dari 20 kilometer akses dan membangun lebih dari 8 kilometer sekat penyangga, disertai pemadaman langsung, pendinginan dan pengiriman logistik.

Sebanyak 16 unit alat berat ekskavator juga dikerahkan untuk membantu membuka jalur di tengah vegetasi dan kayu rebah. Operasi juga didukung pompa tekanan tinggi, peralatan pemadaman gambut serta water bombing dari udara.

"Perkembangan utama pada 30 September terjadi di kawasan Sungai Benuh. Tim menyelesaikan jalur terobosan sekitar 4,8 kilometer menuju zona penyangga, disertai pembangunan sekat bakar di sisi kiri dan kanan serta jalur menuju area titik api," kata Alex.

Di sekitar batas area kebakaran, pekerjaan sekat bakar terus diperpanjang. Embung juga dibangun untuk memperkuat ketersediaan air bagi operasi pemadaman. Dari arah Sungai Benuh batas Jambi, pembukaan jalur terus dilakukan untuk memperkuat akses ke kawasan operasi.

Alex menjelaskan medan menuju titik sumber api menjadi tantangan utama. Gambut yang lembut menyulitkan mobilisasi alat berat, sementara banyaknya kayu rebah menghambat pergerakan personel. Sejumlah peralatan juga sempat mengalami kendala teknis dan membutuhkan penanganan mekanik.

"Meski akses semakin terbuka, operasi belum berakhir. Tim gabungan masih melanjutkan pemadaman, pendinginan, pembangunan sekat bakar dan pengamanan batas area kebakaran untuk mencegah api kembali meluas," katanya.

Bagi tim di lapangan, capaian setelah 36 hari bukan sekadar soal panjang jalur yang berhasil dibuka. Terbukanya akses membuat personel dan peralatan kini dapat bergerak semakin dekat ke sumber api, menjadi tahapan penting dalam penanganan karhutla di kawasan TNBS.