Irwan mengungkapkan melalui skema ini, investor tetap berpotensi memperoleh penyesuaian kupon ketika suku bunga acuan meningkat. Sementara penurunan suku bunga tidak akan membuat kupon turun di bawah tingkat floor yang berlaku.

Adapun besaran kupon awal SBR015 ditetapkan berdasarkan BI Rate ditambah spread, dimana kupon awal SBR015T2 sebesar 6,75% per tahun, ditetapkan berdasarkan BI Rate + 100bps. Sementara kupon SBR015T4 sebesar 6,85% per tahun, ditetapkan berdasarkan BI Rate + 110bps.

Irwan menjelaskan karakteristik floating with floor memberikan salah satu aspek yang perlu diperhatikan masyarakat dalam memilih SBN ritel. Dengan karakteristik tersebut, SBR015 dapat menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan investor dalam menghadapi dinamika dan fluktuasi pasar keuangan. Keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan tujuan investasi, kebutuhan likuiditas, profil risiko, serta kemampuan finansial masing-masing investor.

Lebih lanjut, Irwan mengatakan pemerintah menargetkan total penerbitan SBR015 sebesar Rp20 triliun. Masyarakat dapat melakukan pemesanan mulai dari Rp 1 juta, dengan batas maksimum pemesanan seri SBR015T2 sebesar Rp 5 miliar dan seri SBR015T4 sebesar Rp 10 miliar.

Pilihan nominal investasi tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyesuaikan investasi dengan kemampuan finansialnya. Dengan nilai minimum mulai dari Rp1 juta, SBR015 dapat menjadi salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan oleh investor ritel yang ingin mulai membangun portofolio investasi.

Irwan mengatakan nantinya dana yang dihimpun melalui penerbitan SBN digunakan pemerintah sebagai bagian dari pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk untuk mendukung berbagai agenda pembangunan nasional.