NADIKABAR.COM — Siapa yang tak kenal Blok M? Kawasan perdagangan modern di Jakarta Selatan ini dalam beberapa tahun terakhir berhasil menyulap diri dan bertransformasi menjadi ikon baru anak muda. Sebagai kawasan yang terintegrasi dengan transportasi publik, yaitu terminal bus dan stasiun MRT, Blok M menjadi titik temu berbagai aktivitas, mulai dari pusat perbelanjaan, tempat transit pengguna transportasi umum, kafe, hingga Taman Literasi yang menyediakan perpustakaan di dalamnya.

Sore itu, saya berjalan menyusuri Little Tokyo, singgah sebentar di pusat kuliner Blok M Hub, lalu menuju Taman Literasi Martha Tiahahu yang bersebelahan dengan deretan kafe M Bloc Space. Sesekali tampak antrean mengular di beberapa toko roti dan minuman yang sedang viral. Pengunjung dengan sabar berdiri dalam antrean meskipun udara sore itu terasa panas dan lembap.

Begitu kuat magnetnya sehingga ketidaknyamanan mengantre tidak begitu dipedulikan, asalkan berhasil membawa pulang jajanan yang sudah mereka incar karena di-endorse oleh influencer kenamaan. Begitulah potret Blok M yang tak pernah sepi dari pengunjung; menjadi destinasi sekaligus tempat meet up favorit, terutama bagi anak muda, untuk berdiskusi atau sekadar bersantai.

Dalam sejarahnya, kawasan Blok M yang masuk dalam wilayah Kebayoran Baru ini merupakan kota satelit yang dirancang sejak akhir 1930-an oleh pemerintah kolonial dan direalisasikan berdasarkan rencana induk arsitek Mohammad Soesilo mulai 1948. Kawasan seluas sekitar tujuh kilometer persegi ini mulai berfungsi sebagai garden city pada 1953 dengan proyeksi hunian hingga 100.000 jiwa (Wikipedia, 2026).

Dengan adanya proyeksi tersebut, kawasan Blok M juga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan hunian dari Blok A hingga Blok S yang berbasis Transit Oriented Development (TOD) serta memiliki Commercial and Transit Hub Underground pertama di Indonesia, yaitu di Mal Blok M (Chandra dan Komala, 2022). Sejak Pasar Blok M dan Terminal Blok M diresmikan pada 1968, Blok M ditetapkan sebagai pusat perdagangan sekaligus simpul transportasi bagi Jakarta bagian selatan (Kompas, 2026).

Seiring dengan berkembangnya urbanisasi di Jakarta, pada tahun 2019 mulailah dioperasikan Stasiun MRT Blok M yang menghubungkan rute dari Stasiun Lebak Bulus ke Stasiun Bundaran HI. Bertambahnya ketersediaan transportasi umum ini meningkatkan jumlah pengunjung di kawasan Blok M secara signifikan hingga 150%, dari 8.000-10.000 orang per hari menjadi 20.000-25.000 orang per hari (Chandra dan Komala, 2022).

Bahkan, data tahun 2026 menunjukkan pengguna MRT mencapai antara 125.000 hingga 137.000 orang setiap harinya. Angka ini terbagi menjadi sekitar 161.000 penumpang per hari pada hari kerja dan sekitar 87.000 penumpang per hari pada akhir pekan (MRT Jakarta, 2026).

Setelah beristirahat sejenak di Taman Literasi Martha Tiahahu sembari lesehan di atas rumput dan menyeruput kopi dingin yang saya beli sebelumnya, saya memutar sedikit ke belakang menyusuri gang sempit ke arah Pasaraya. Pusat perbelanjaan ini dahulu pada era 1990-an menjadi simbol prestisius yang menjual barang-barang premium, sehingga berbelanja di sana merupakan sebuah kemewahan.

Sambil berjalan pelan, indra penciuman saya mendadak disengat aroma menusuk dari salah satu area yang ditutup pagar besi kawat berduri. Semakin mendekat, bau tersebut kian menusuk akibat timbunan sampah yang dibungkus kantong kresek hitam bertumpuk-tumpuk. Saya sempat bertanya kepada petugas kebersihan yang saat itu sedang memindahkan sampah ke dalam truk besar. Sore itu merupakan jadwal pengangkutan sampah yang selanjutnya dioper ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.