Alfons menjelaskan para pelaku kasus semacam ini membuat suatu mekanisme yang memungkinkan situs menampilkan konten yang berbeda ketika dibuka melalui link secara langsung dan ketika dibuka melalui pencarian Google.
"Yang membuat kasus ini sulit disadari adalah adanya pengalih/forwarder tersembunyi yang hanya aktif saat yang datang adalah mesin pencari Google," tulis Alfons dalam laporannya.
Hal ini yang menyebabkan pengelola kadang tidak menyadari bahwa situs yang dikelolanya telah dialihkan ke situs judi online jika dicari melalui Google. Akibatnya, situs institusi justru menjadi jebakan bagi banyak pengguna.
Bagaimana mencegah penyusupan situs?Menurut Alfons, ada beberapa cara bagi pengelola untuk mencegah kasus semacam ini terjadi, di antaranya dengan memperbarui perangkat lunak dengan sistem keamanan terbaru, mengganti kata sandi menjadi yang lebih kuat, serta menggunakan autentikasi dua faktor.
"Menariknya, tidak sedikit korban yang aplikasinya masih memakai versi yang didukung. Artinya pintu masuknya kemungkinan besar akun pengelola yang bocor," ungkapnya.
Selain itu, ia juga menemukan bahwa kebanyakan situs jurnal ilmiah yang ditemukan tidak mencantumkan kontak tim tanggap insiden siber.