"Kami telah mewakafkan diri menjadi pansel, sehingga tidak ada kepentingan pribadi dalam proses ini, termasuk dalam persoalan konflik kepentingan," kata Siswadi.

Anggota Panitia Seleksi Anggota Komnas Disabilitas Bahrul Fuad menegaskan komitmen Panitia Seleksi dalam menjaga prinsip inklusivitas selama proses seleksi. Pihaknya memastikan alur pendaftaran dirancang agar dapat diakses oleh berbagai ragam penyandang disabilitas.

"Sudah. Buktinya, semua ragam disabilitas bisa mendaftar. Itu menunjukkan bahwa proses seleksi dan platform yang digunakan untuk seleksi ini sudah kita uji aksesibilitasnya, sehingga semua ragam disabilitas dapat berpartisipasi dalam proses pendaftaran," jelasnya.

Fuad mengungkapkan tantangan utama dalam proses seleksi kali ini terjadi saat tahap verifikasi berkas administrasi. Menurutnya, terdapat sejumlah pendaftar yang memiliki kompetensi mumpuni tetapi gugur akibat tidak melengkapi dokumen persyaratan wajib.

"Sehingga kita tidak bisa toleran karena persyaratan itu mutlak," ungkapnya.

Fuad menjelaskan bahwa tahapan berikutnya bagi peserta yang lolos seleksi administrasi adalah tes objektif berbasis komputer. Sebelum pelaksanaan tes, pendaftar akan mengikuti uji coba serta pendampingan khusus bagi penyandang disabilitas demi memastikan keikutsertaan mereka berjalan optimal.

"Jadi, sebelum dilakukan tes objektif berbasis komputer, pansel akan menyelenggarakan uji coba atau pelatihan tes. Terutama bagi para calon peserta yang memiliki disabilitas, nanti juga akan ada coaching tersendiri sebelum proses tes," pungkasnya.

Menurut Fuad, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Panitia Seleksi untuk memastikan seluruh calon anggota Komisi Nasional Disabilitas dapat berpartisipasi secara penuh dan setara dalam seluruh proses seleksi. Panitia Seleksi menegaskan bahwa keputusan hasil seleksi administrasi bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.