Kondisi tersebut membuka potensi adanya kebutuhan lanjutan untuk panel listrik maupun switchgear seiring dengan berjalannya pembangunan dan penambahan kapasitas proyek.
GEMS mencatatkan pendapatan USD1,50 miliar pada semester I-2026. Angka tersebut naik 30,66% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD1,14 miliar.
Laba bersih GEMS juga meningkat 45,03% secara tahunan menjadi USD219,96 juta. Pada semester I-2025, laba bersih perseroan tercatat sebesar USD151,67 juta.
Kinerja pendapatan ditopang oleh bisnis pertambangan batu bara. Penjualan dari segmen tersebut tumbuh 31,08% secara tahunan.
Pasar ekspor menjadi penyumbang terbesar dengan nilai penjualan USD884,85 juta. Sementara itu, penjualan batu bara di pasar domestik tercatat sebesar USD610,43 juta.
Pertumbuhan laba bersih GEMS juga ditopang oleh kenaikan beban usaha yang relatif lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Beban usaha hanya meningkat 6,66% secara tahunan.
Selain itu, beban umum dan administrasi berhasil ditekan 10,16%. Efisiensi tersebut turut mendorong laba usaha GEMS naik 49,39% menjadi USD298,64 juta.
Meski demikian, kinerja laba usaha tersebut masih terdampak rugi selisih kurs sebesar USD6,43 juta.
VKTR telah memperoleh pernyataan efektif dari OJK untuk melaksanakan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I atau rights issue.
Dalam aksi korporasi tersebut, VKTR akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham. Dari aksi ini, perseroan menargetkan dana yang dihimpun mencapai Rp3 triliun.
Sekitar 66,86% dari dana bersih hasil rights issue akan digunakan sebagai setoran modal kepada Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI). Dana tersebut akan mendukung pembelian kendaraan listrik dari VKTR untuk periode 2026-2027.