NADIKABAR.COM — Aksi demonstrasi warga selama tujuh hari di PT Misi Mulia Petronusa (MMP) Banyuwangi yang menuntut hak atas tanah berujung pada kesepakatan pembukaan akses perusahaan. Blokir beton yang sebelumnya dipasang di pintu masuk perusahaan akhirnya dibuka.

Kesepakatan itu dicapai setelah negosiasi yang dimediasi Kapolresta Banyuwangi Kombes Rofiq Ripto Himawan. Salah satu pertimbangan pembukaan akses yakni kelangkaan LPG 3 kilogram yang terjadi di sejumlah wilayah Banyuwangi.

Blokir beton sebelumnya dipasang di akses masuk PT MMP untuk menghalau massa demonstran. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada aktivitas distribusi LPG.

"Saya akan mediasi dengan pihak perusahaan, silakan bertemu. Tapi, saat perwakilan bertemu saya meminta agar blokir ini dibuka biar tangkinya bisa mengisi," ungkap Kombes Rofiq kepada demonstran, Selasa (1/9/2026).

Juru bicara massa aksi, Herman, kemudian menyepakati pembukaan akses tersebut. Namun, massa memberikan syarat kepada pihak perusahaan.

Massa meminta perusahaan memberikan akses kepada Rahmat dan Abdul Hadi untuk masuk ke titik tanah yang mereka klaim sebagai miliknya. Keduanya mengaku sebagai korban penyerobotan tanah oleh Bosowa Energasindo yang merupakan induk perusahaan PT MMP Banyuwangi.

"Silakan dibuka betonnya, silakan dioperasikan tangki-tangkinya tapi cukup 2 hari saja dan ijinkan kami masuk ke tanah Pak Rahmat dan Pak Abdul Hadi. Sampai bayarkan hak dari tanah keduanya," tegas Herman.

Rahmat dan Abdul Hadi dengan didampingi pengurus dari Forum Banyuwangi Bersatu menggelar pertemuan tertutup dengan pihak PT. MMP untuk mencapai kata sepakat dengan disaksikan oleh Kapolresta Banyuwangi.

Usai kesepakatan tertutup tersebut, Rahmat pemegang Sertifikat Hak Milik atas tanah seluas 13.990 meter persegi berharap haknya dapat diberikan dengan adil oleh pihak PT. MMP.

"Saya tidak menginginkan hak orang lain, saya cuma minta hak saya sendiri. Tolong bayarlah tanah saya, sudah 11 tahun saya berjuang. Tolong, jangan abaikan kami ini rakyat kecil," jelas Rahmat.

Hingga Selasa (1/9/2026) malam, meski blokir beton telah dibuka, demonstran tetap bertahan di area pintu masuk PT. MMP.