NADIKABAR.COM — Rusia dilaporkan memperluas jangkauan serangannya di Ukraina dengan menargetkan data center dan penyedia jasa internet di ibu kota Kyiv.

Serangan drone yang menghantam fasilitas bisnis milik perusahaan telekomunikasi Datagroup pada Jumat (25/9) menewaskan empat orang dan merusak infrastruktur digital, memperlihatkan tren baru di mana pusat data kini menjadi sasaran empuk dalam konflik militer global.

Serangan yang melanda distrik Solomianskyi di Kyiv tersebut berdampak langsung pada stabilitas layanan komunikasi dan infrastruktur digital setempat:

Kementerian Pertahanan Rusia secara terbuka mengakui serangan tersebut dan mengklaim bahwa data center yang menjadi sasaran berfungsi memproses serta mentransmisikan data intelijen bagi angkatan bersenjata Ukraina.

Menanggapi hal itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras aksi Moskow yang dinilainya sengaja memperluas eskalasi ke ranah sipil dan bisnis.

"Bisnis Amerika dan asing, pusat data, penyedia internet--bagi Rusia, seluruh kehidupan normal adalah sasaran. Sangat penting bagi dunia untuk merespons hal ini," tegas Zelensky.

Kerusakan fisik akibat serangan militer mendorong banyak perusahaan di Ukraina mulai memindahkan (migrasi) data sensitif mereka ke server di luar negeri guna menjamin kelangsungan bisnis digital.

Ancaman fisik terhadap infrastruktur cloud dan data center kini menjadi tren mengkhawatirkan dalam peperangan modern. Sebelumnya pada pertengahan 2026, serangan rudal Iran terhadap fasilitas Amazon Web Services (AWS) di Bahrain dan Uni Emirat Arab juga menyebabkan kerusakan permanen pada pusat data serta mengancam fasilitas AI Stargate di Abu Dhabi, demikian dikutip NadiKabar dari Techspot, Selasa (29/9/2026).