NADIKABAR.COM — Serikat Petani Indonesia (SPI) mengusulkan pembangunan sedikitnya 10 pabrik minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di setiap provinsi sentra sawit sebagai proyek percontohan pengolahan hasil perkebunan berbasis koperasi.
Dalam Konferensi Nasional Perkebunan Rakyat II di Jakarta, Senin, Ketua Umum SPI Henry Saragih mengatakan pembangunan pabrik CPO tersebut diarahkan untuk melibatkan petani melalui koperasi.
"Saat ini yang sudah teridentifikasi rencana kami minimal per provinsi ada 10 (pabrik CPO) yang mau kami bangun, yang menjadi pilot project-nya ini Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat, serta seluruh Kalimantan," kata Henry.
Menurut dia, pengembangan pabrik CPO diperlukan agar petani tidak hanya menjual tandan buah segar (TBS), tetapi juga memperoleh nilai tambah dari pengolahan hasil perkebunan.
Sementara itu, Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Sabarudin mengatakan petani sawit siap masuk ke hilirisasi sawit, tetapi masih menghadapi kendala pembiayaan untuk membangun pabrik pengolahan.
Ia memperkirakan pabrik mini CPO berkapasitas 10 ton TBS per jam membutuhkan investasi sekitar Rp30 miliar hingga Rp40 miliar.
Sabarudin mengatakan satu koperasi dapat menaungi sekitar 1.000-2.000 petani dengan luasan perkebunan sekitar 5.000-6.000 hektare.
Menurut dia, sekitar 80 persen petani sawit merupakan petani mandiri yang belum bermitra dengan perusahaan.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan pemerintah mendorong petani sawit membentuk badan usaha koperasi agar dapat mengembangkan usaha hingga pengolahan CPO.
Ia mengatakan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi siap mendampingi koperasi petani, termasuk dalam inkubasi dan penyiapan pembiayaan untuk pengembangan usaha.
Menurut dia, kapasitas pabrik pengolahan dapat disesuaikan dengan skala perkebunan petani, mulai dari sekitar 10 ton TBS per jam.
Salah satu contoh yang telah berjalan adalah Koperasi Unit Desa (KUD) Sejahtera di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang memiliki pabrik CPO berkapasitas 45 ton TBS per jam.
Ferry menyebut luas perkebunan sawit di Indonesia sekitar 16 juta hektare. Menurut dia, sekitar 52 persen lahan sawit dikuasai korporasi besar, 43 persen merupakan perkebunan rakyat, dan sisanya dikuasai BUMN.
"Ketimpangan yang seperti ini yang oleh Bapak Presiden sekarang harus dibuat mekanismenya supaya masyarakat petani juga berhak untuk bisa menguasai tetapi juga didampingi manajemennya oleh Kementerian Koperasi," katanya.