NADIKABAR.COM — Nyeri dada, sesak napas, hingga keringat dingin merupakan keluhan yang kerap dikaitkan dengan gangguan jantung. Namun, gejala tersebut dapat muncul pada dua kondisi berbeda, yakni angin duduk atau angina pektoris dan serangan jantung.

Keduanya sama-sama berkaitan dengan berkurangnya aliran darah yang membawa oksigen ke otot jantung. Meski memiliki gejala yang mirip, angin duduk dan serangan jantung bukanlah kondisi yang sama. Perbedaan utamanya terletak pada tingkat gangguan aliran darah dan dampaknya terhadap otot jantung.

Angin duduk umumnya terjadi ketika aliran darah ke otot jantung berkurang sementara, sedangkan serangan jantung terjadi ketika aliran darah terhambat secara serius atau terputus sehingga otot jantung mulai mengalami kerusakan.

Penting untuk mengenali perbedaan keduanya. Meski demikian, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan apakah seseorang mengalami angin duduk atau serangan jantung. Pemeriksaan medis diperlukan karena kedua kondisi tersebut dapat menimbulkan keluhan yang serupa.

1. Mengenal angin duduk atau angina pektoris

Angin duduk merupakan istilah yang umum digunakan masyarakat untuk menyebut angina pektoris, yaitu rasa nyeri atau tidak nyaman di dada akibat otot jantung tidak memperoleh pasokan darah kaya oksigen yang cukup.

Kondisi ini umumnya berkaitan dengan penyempitan pembuluh darah koroner akibat penumpukan plak. Ketika seseorang melakukan aktivitas fisik atau mengalami tekanan emosional, kebutuhan oksigen jantung meningkat. Namun, pembuluh darah yang menyempit tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut sehingga timbul keluhan.

Pada angina stabil, gejala biasanya memiliki pola yang relatif sama. Nyeri dapat muncul ketika berjalan cepat, menaiki tangga, berolahraga, atau mengalami stres emosional. Keluhan umumnya mereda setelah beristirahat atau menggunakan obat yang diresepkan dokter.

Beberapa gejala angin duduk yang perlu dikenali meliputi:

- Dada terasa tertekan, tertindih, berat, atau seperti diremas.- Nyeri dapat menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, punggung, atau perut bagian atas.- Sesak napas ketika melakukan aktivitas.- Tubuh terasa lelah atau lemas.- Mual, pusing, dan berkeringat.

Angina stabil umumnya berlangsung singkat, sering kali sekitar lima menit atau kurang. Namun, durasi tersebut bukan patokan untuk memastikan seseorang aman dari serangan jantung.

Selain angina stabil, terdapat angina tidak stabil atau unstable angina. Kondisi ini lebih berbahaya karena nyeri dapat muncul secara tiba-tiba, termasuk ketika sedang beristirahat. Keluhan juga dapat berlangsung lebih lama, semakin sering, atau tidak membaik setelah beristirahat.

Angina tidak stabil merupakan kondisi darurat medis karena dapat menjadi tanda sindrom koroner akut dan berisiko berkembang menjadi serangan jantung.

Serangan jantung atau infark miokard terjadi ketika aliran darah menuju sebagian otot jantung terhambat sehingga jaringan jantung kekurangan oksigen dan mulai mengalami kerusakan.

Penyebab yang paling umum adalah pecahnya plak pada dinding pembuluh darah koroner yang kemudian memicu pembentukan gumpalan darah. Gumpalan tersebut dapat menyumbat aliran darah menuju otot jantung.

Berbeda dengan angina stabil, serangan jantung dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otot jantung apabila tidak segera ditangani.

Gejala serangan jantung yang umum terjadi antara lain:

- Nyeri atau tekanan pada bagian tengah dada yang berlangsung selama beberapa menit atau hilang kemudian muncul kembali.- Rasa nyeri menjalar ke salah satu atau kedua lengan, bahu, leher, rahang, punggung, maupun perut bagian atas.- Sesak napas, baik disertai nyeri dada maupun tanpa nyeri dada.- Keringat dingin.- Mual atau muntah.- Pusing, kepala terasa ringan, atau hampir pingsan.- Kelelahan yang tidak biasa.

Tidak semua serangan jantung diawali dengan nyeri dada yang sangat hebat. Sebagian orang mengalami gejala ringan, bahkan tidak merasakan nyeri dada yang khas.

Perempuan, orang lanjut usia, dan penderita diabetes juga dapat mengalami gejala yang kurang khas, seperti sesak napas, mual, nyeri punggung, atau kelelahan berlebihan. Karena itu, gejala serangan jantung tidak boleh hanya dinilai dari tingkat nyeri dada.

3. Perbedaan gejala angin duduk dan serangan jantung