"Yang ingin kita bangun adalah sistem yang saling menguatkan. Jagung hasil produksi petani dalam negeri diserap dan dikelola dengan baik, kemudian dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan peternak melalui SPHP sesuai ketentuan pemerintah," ujarnya.

"Dengan begitu, petani mendapatkan kepastian penyerapan, peternak memperoleh akses pakan yang lebih terjangkau, dan stabilitas pasokan dapat terus kita jaga," tambahnya.

Penguatan ekosistem jagung nasional juga diarahkan hingga tahap hilirisasi hasil peternakan, terutama melalui penyerapan produksi telur dari peternak mikro dan kecil. Telur tersebut diharapkan terserap melalui pasar reguler dan pemenuhan kebutuhan program MBG, serta diolah menjadi produk cair maupun tepung telur untuk memperluas pasar domestik dan membuka peluang ekspor.

Menurutnya, untuk merealisasikan rencana tersebut, BULOG akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian, koperasi peternak, kelompok tani, dan pemangku kepentingan terkait. Koordinasi ini mencakup pematangan mekanisme penyerapan surplus jagung, pengelolaan cadangan melalui pergudangan, serta distribusi sesuai kebutuhan di lapangan.

Ia berharap sinergi antarpemangku kepentingan dapat membuat tata niaga jagung dalam negeri lebih terarah dan efisien, sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani dan peternak di sepanjang rantai pasok.

Integrasi produksi, penyerapan, penyimpanan, distribusi, hingga hilirisasi diharapkan turut memperkuat stabilitas pasokan dan harga pangan serta menjaga keberlanjutan usaha petani dan peternak rakyat.