NADIKABAR.COM — Presiden Direktur PT Sepatu Bata Tbk (BATA) Amitav Nandy mengundurkan diri dari jabatannya. Surat pengunduran diri Amitav diterima perusahaan pada 23 September 2026. Melalui keterbukaan informasi BEI, manajemen BATA menyampaikan, mundurnya Amitav Nandy merupakan bagian dari langkah rotasi jabatan di lingkungan Bata Group.
"Sehubungan dengan adanya rotasi jabatan di Bata Group, Perseroan telah menerima surat pengunduran diri Bapak Amitav Nandy selaku Presiden Direktur Perseroan pada tanggal 23 September 2026," tulis Manajemen, dikutip Senin (28/9/2026).
Lantas siapa pemilik Sepatu Bata yang direkturnya mengundurkan diri?
Kebanyakan masyarakat Indonesia mengira Sepatu Bata merupakan produk lokal. Padahal perusahaan alas kaki tersebut berasal dari Republik Ceko.
Berdasarkan catatan NadiKabar, perusahaan ini memiliki nama lengkap T&A Bata Shoe Company dan sudah terdaftar di Zlin, Republik Ceko.
Pendirinya juga merupakan orang Ceko. Nama 'T&A Bata' ini diambil dari nama para pendiri perusahaan, yakni Tomáš, Anna and Antonín Baťa. Mereka adalah putra-putri generasi kedelapan keluarga Bata yang sudah turun temurun bekerja di bidang pembuatan sepatu selama berabad-abad.
Melansir dari situs remis T&A Bata Shoes, kakak-beradik Bata ini mendirikan 'pabrik' sepatu Bata pertama mereka pada 1894 dengan mempekerjakan sekitar 10 orang pembuat sepatu. Namun tidak lama setelahnya perusahaan ini dengan cepat mempekerjakan sekitar 50 orang.
Barulah pada 1897, Bata dengan cepat beradaptasi dan mulai menggunakan mesin pembuat sepatu pertama yang digerakkan oleh uap. Kondisi ini menjadikan Bata sebagai perusahaan pertama di Eropa yang berhasil melakukan memproduksi sepatu secara massal.
Singkat cerita, pada 1905 Bata bisa membuat sekitar 2.200 sepatu per hari dan menjadikannya sebagai produsen alas kaki terbesar di Eropa. Dari sana mereka terus memperbesar skala produksi perusahaan hingga mempekerjakan sekitar 600 orang.
Kesuksesan besar Bata pertama kali adalah usai mendapatkan orderan sepatu tentara Austro-Hongaria. Kala itu Bata diminta untuk memproduksi sebanyak 50.000 buah sepatu sepanjang perang tersebut.
Mengutip lama resmi BATA, pada tahun 1931, nama Bata mulai terukir di Indonesia. Di mana BATA bekerja sama dengan NV Netherlandsch-Indisch sebagai importir sepatu yang beroperasi di Tanjung Priok.
Enam tahun kemudian, Tomas Bata mendirikan pabrik sepatu di tengah perkebunan karet di kawasan Kalibata, yang berlokasi di Jalan Kalibata Raya, Jakarta Selatan. Produksi sepatu sendiri telah berjalan sejak 1940.
Pada tahun 1982, PT Sepatu Bata Tbk tercatat di Bursa Efek Jakarta pada 24 Maret. Pada tahun 1994, Bata menyelesaikan pembangunan Pabrik Purwakarta.
Sebagai salah satu pabrik sepatu terbesar di Indonesia, pabrik tersebut sepenuhnya mengkhususkan diri pada produksi alas kaki berbahan PVC melalui proses injeksi untuk pasar domestik maupun luar negeri. Saat ini, Bata Indonesia menempati gedung enam lantai yang bernama PT Sepatu Bata Tbk di Cilandak, Jakarta Selatan.
Saat ini, merek Bata di Indonesia telah berkembang sangat jauh. Dahulu dikenal luas sebagai merek sepatu sekolah dengan tagline "Back to School", Bata kini telah melayani berbagai segmen pasar. Hal ini juga mencakup merek-merek lain seperti Marie Claire, Comfit, Power, Bubblegummers, North Star, B-First, dan Weinbrenner.
Bata merupakan salah satu perusahaan alas kaki dan pemasar terkemuka di Indonesia. Bata mengoperasikan jaringan ritel sebanyak 435 toko di seluruh Indonesia, yang terdiri dari Family Store dan City Store.
Hanya saja, kini eksistensi Sepatu Bata tak lagi seperti dulu. Pada tahun 2024, perusahaan menutup operasional pabrik di Purwakarta, Jawa Barat. Atas penutupan itu, Bata juga dilaporkan telah melakukan PHK massal terhadap 233 karyawannya.