Dalam rapat tersebut, sikap perwakilan Yayasan Magnolia Champaca Virginiana bernama Louice Cristiana menuai sorotan. Yayasan yang menjadi mitra SPPG Makale Batupapan 1 ogah disalahkan sendiri dalam kasus dugaan keracunan dengan dalih sudah menyiapkan MBG sesuai standard operating procedure (SOP).

"Kami tidak bermaksud untuk membela diri sama sekali tapi saya menyampaikan tanggung jawab ini dengan kapasitas kami sebagai mitra bersama-sama dengan 3 orang BGN ya, termasuk dari yayasan kami melakukan SOP penentuan standar bahkan sudah berdiskusi dengan kepala SPPG," kata Louice.

Sejumlah anggota DPRD Tator masih sempat mencecar mitra SPPG untuk memberikan penjelasan secara gamblang penyebab terjadinya dugaan keracunan. Legislator juga meminta penjelasan terkait alur penyiapan dan distribusi MBG kepada siswa.

"Kami mendata semua sekolah, siswa-siswa yang memiliki alergi terhadap makanan-makanan tertentu. Karena di sini ada karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur mayur buah-buahan. Hal ini untuk meminimalkan risiko yang terjadi," jelas Louice.

Louice kembali berdalih relawan yang bekerja di SPPG sudah bekerja secara profesional dengan disiplin yang ketat. Menu MBG yang disajikan bahkan diperiksa lebih dulu oleh person in charge (PIC) atau penanggung jawab sekolah.

"Saya bahkan ada di grup relawan, grup itu sudah saya bentuk satu tahun yang lalu. Kepada semua relawan, kami dari pihak yayasan memastikan mereka betul-betul disiplin. Itu basic-nya," ucapnya.

"PIC sekolah itu ada yang mana PIC ini harus menerima, jadi dengan tim distribusi kami, menerima, mencium, mencicipi menu-menu yang ada dalam ompreng itu, dipastikan tidak berbau, tidak busuk," paparnya.

Setelah dipastikan tidak busuk, barulah menu MBG dalam ompreng disajikan. Dia lantas mengaku menerima laporan adanya makanan berbusuk yang dibagikan tapi malah tetap disantap oleh siswa.

"Itu yang terjadi, setelah itu baru kita distribusikan ke sekolah. Nah, ada berbagai informasi yang katanya mau makan sudah busuk, kalau sudah tahu bau, kenapa dimakan?" cetus Louice.

Louice lantas berdalih memahami kondisi yang terjadi. Menurut dia, situasi tersebut disebut berada di luar kendalinya.