NADIKABAR.COM — Penyelenggaraan Trade Expo Indonesia atau TEI ke-41 resmi menjadi momentum penguatan ekspor, ketahanan energi, dan ketahanan pangan nasional melalui sinergi strategis dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan TEI merupakan ajang strategis untuk memperluas akses pasar dan menarik investasi.

"TEI merupakan ajang strategis untuk memperluas akses pasar, menjalin kemitraan dagang, dan menarik kerjasama investasi. Kehadiran buyer dari 134 negara menunjukkan tingginya antusiasme dunia terhadap produk unggulan Indonesia, sekaligus menegaskan peran TEI sebagai ruang diplomasi ekonomi global bagi Indonesia," jelas Budi pada keterangan tertulisnya, Selasa (3/11/2026).

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia saat membacakan sambutan Presiden Prabowo Subianto mengatakan pemerintah sangat menekankan pentingnya perdagangan luar negeri sebagai penggerak utama hilirisasi industri dan penciptaan lapangan kerja.

"Langkah ini krusial untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional hingga pengembangan ekonomi di berbagai daerah," tutur Bahlil.

TEI 2026 juga menjadi panggung penting bagi agenda ketahanan energi dan pangan. Komoditas perkebunan seperti kelapa sawit memegang peran strategis karena produk turunannya sangat mendukung pengembangan biodiesel.

Hilirisasi ini terbukti mampu mengurangi ketergantungan pada impor solar sekaligus meningkatkan nilai tambah ekspor.

Keberhasilan sektor ini tidak terlepas dari peran BPDP sebagai mitra strategis pemerintah. BPDP aktif mengelola dana pungutan ekspor kelapa sawit untuk membiayai program Peremajaan Sawit Rakyat dan pengembangan biodiesel.

Dana tersebut juga dialokasikan untuk riset, penguatan sumber daya manusia, hingga pemberdayaan skala UMKM.

Sektor perkebunan Indonesia kini telah bergerak maju dari sekadar mengekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah tinggi. Sebagian besar ekspor sawit saat ini sudah berupa produk turunan hilir seperti CPO pangan, oleokimia, dan biodiesel.

Nilai ekspor kelapa sawit yang sangat besar ini konsisten menjadikannya sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar negara.

Penguatan energi hijau nasional juga semakin terhubung dengan TEI melalui pemanfaatan energi terbarukan. Limbah perkebunan seperti tandan kosong, cangkang, dan serat kelapa sawit kini berpotensi dimanfaatkan sebagai biomass.

Pemanfaatan limbah tersebut ditujukan untuk menghasilkan bahan bakar padat, sumber listrik, hingga biofuel.

Melalui Zona Makanan, Minuman, dan Produk Pertanian, TEI ikut mendorong ketahanan pangan dengan memperluas pasar produk olahan.

Diversifikasi produk seperti minyak makan merah yang kaya pro-vitamin A dan E memiliki potensi pasar yang sangat luas. Penguatan pasar ekspor ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan para petani perkebunan.

Pemerintah berharap sinergi antara TEI sebagai pintu pasar global dan BPDP dapat mempercepat transformasi ekonomi Indonesia.

Kolaborasi kuat ini secara khusus diarahkan untuk memperkuat rantai nilai ekspor, ketahanan energi, dan ketahanan pangan. Sinergi ini juga memastikan posisi tawar Indonesia semakin diperhitungkan dalam percaturan diplomasi ekonomi di tingkat global.

Sebagai informasi, pameran dagang berskala internasional ini berlangsung pada 14 hingga 18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition BSD City.

Mengusung posisi Indonesia sebagai pusat sourcing global, TEI 2026 menghadirkan 1.873 perusahaan peserta. Ajang bergengsi ini menargetkan pencapaian nilai transaksi hingga menembus angka US$ 17,5 miliar.