NADIKABAR.COM — Lulusan universitas tingkat sarjana terus bertambah setiap tahunnya. Namun, lapangan pekerjaan yang tersedia tidak bisa menyerap seluruhnya.
Sebuah situs pencarian kerja yang berpusat di Britania Raya, Adzuna, membagikan data jumlah lowongan pekerjaan untuk lulusan baru (fresh graduate) yang menurun pada 2026. Jumlah ini mencapai level terendah sejak Adzuna mulai mencatat data tersebut pada tahun 2016.
Sejak 2016, Adzuna mencatat lowongan pekerjaan paling tinggi pada 2017 dengan total 55.800 lowongan untuk lulusan baru. Angka ini enam kali lipat lebih tinggi daripada jumlah lowongan yang tersedia di situs pada Juli 2026 yaitu 8.383 lowongan. Bahkan, data Adzuna mengungkapkan pada 2025 ada 15.397 lowongan yang terbuka bagi lulusan baru.
Adzuna juga mengungkapkan persaingan di tim redaksi pencari kerja di seluruh tingkat pendidikan juga meningkat cukup signifikan. Pada bulan Juli periode tahun lalu keketatan rata-ratanya 1,93 pencari kerja per lowongan, sedangkan tahun ini naik menjadi 2,14 pencari kerja per lowongan.
Masih dari sumber yang sama, data mengungkapkan lowongan pekerjaan di bidang pariwisata, pendidikan, dan konstruksi meningkat. Sebaliknya, dari sektor kesehatan, perhotelan, dan logistik mencatatkan jumlah yang lebih sedikit.
Di sisi perusahaan yang mencari pekerja, kenaikan iuran jaminan sosial nasional dan upah minimum menjadi salah satu faktor yang membuat perekrutan menjadi lebih mahal, terutama untuk staf junior.
Namun, beberapa pihak menyebutkan kemungkinan bahwa data tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan pasar kerja lulusan. Bisa jadi, data tersebut menunjukkan pergeseran dalam cara lowongan pekerjaan diiklankan.
Salah satu yang memiliki pendapat demikian adalah Charlie Ball, seorang kepala intelijen pasar tenaga kerja di Jisc atau pemilik Prospects.ac.uk, yang mengatakan ada kemungkinan angka tersebut tidak selalu berarti kesempatan kerja bagi lulusan baru berkurang.
Ia menilai bahwa perusahaan bisa jadi tidak mengiklankan lowongan tersebut dengan sebutan spesifik untuk lulusan baru, melainkan diubah namanya menjadi posisi yang bisa diisi siapapun padahal pada akhirnya juga diisi oleh lulusan baru.
"Pasar kerja lulusan belum runtuh. Meskipun kita tahu kondisinya sedang tidak baik," kata Charlie seperti dikutip dari BBC.
Di Britania Raya, seorang juru bicara pemerintah menyatakan ada sekitar 253.000 lebih banyak orang yang bekerja dibandingkan waktu yang sama tahun lalu, dan angka pengangguran terus menurun.
Data resmi di sana menunjukkan tingkat pengangguran kaum muda di Inggris yang mencakup kelompok usia 16 hingga 24 tahun, mencapai 16,2% dalam periode tiga bulan hingga Maret 2026. Jumlah anak muda yang tidak menempuh pendidikan, tidak bekerja, maupun tidak mengikuti pelatihan atau not in education, employment or training (NEET) kini telah melampaui satu juta jiwa.
Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di NadiKabar.com.