NADIKABAR.COM — Turnamen Free Fire antar sekolah terbesar di Indonesia, Garena Youth Championship (GYC) 2026 telah usai. Sekolah yang berhasil menjuarainya ialah SMK Angkasa 1 Margahayu.

"Saya berterima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung perjalanan kami sampai akhirnya berhasil meraih juara. Perjuangan kami sampai titik ini tidak mudah. Berkali-kali ikut turnamen offline dan kualifikasi, kami selalu gagal. Namun berkat doa semua pihak, hari ini kami berhasil menjadi juara. Terima kasih kepada orang tua, guru, dan pembimbing yang mendukung kami, kata siswa sekaligus pemain SMK Angkasa 1, Muhammad Ramdani, dari informasi yang diterima NadiKabar, Selasa (3/11/2026).

Partai puncak ajang bergengsi ini berlangsung di UNAS Auditorium, Jakarta, pada Hari Sabtu, 31 Oktober 2026. SMK Angkasa 1 berhasil menjadi yang terbaik, setelah mengungguli tim lain, seperti SMAN 15 Makassar (137 poin) di peringkat dua, SMAN 2 Barabai (119 poin) di posisi ketiga, dan SMKN 1 Talaga (115 poin) di posisi keempat.

Seperti pertandingan esports Free Fire yang diikuti oleh tim-tim profesional, Grand Final GYC 2026 menerapkan format Champion Rush. Jadi tim yang berhasil mengumpulkan minimal 80 poin dan mendapatkan Booyah di game berikutnya akan menjadi juara.

Jadi SMK Angkasa 1 tampil dominan sejak awal kompetisi. Mereka sukses meraih Champion Rush setelah game keempat, dengan total 91 poin.

Meski begitu, upaya mereka memperoleh Booyah di game berikutnya tidak mudah sama sekali. Partisipan lain berusaha keras untuk menggagalkan hal tersebut, hingga terdapat tujuh tim yang berstatus Champion Rush di game kedelapan.

Game kedelapan yang berlangsung di Nexterra berlangsung sengit. Setiap tim bermain hati-hati demi bisa mengamankan booyah.

Di sini, SMK Angkasa 1 mampu bertahan hingga zona terakhir dan berhadapan dengan SMA Kesatrian Puwokerto serta SMA Barabai.

Dalam situasi penentu, SMK Angkasa 1 tampil tenang dan sukses memanfaatkan kesalahan SMAN 2 Barabai yang sedang berduel dengan SMK Kesatrian Purwokerto. Kendati SMAN 2 Barabai menang adu mekanik, tetapi kondisi mereka tidak menguntungkan ketika memasuki momen terakhir.

SMAN 2 Barabai telat masuk zona terakhir yang sudah dihuni duluan oleh SMK Angkasa 1. Terlebih lagi mereka hanya menyisakan tiga pemain, sehingga membuatnya kalah duel dari SMK Angkasa 1 yang mana skuadnya masih lengkap.

Berkat keberhasilan tersebut, SMA Angkasa 1 pun tidak hanya menyandang gelar sekolah dengan pemain Free Fire terkuat di Indonesia, tetapi juga mendapatkan dana pendidikan sebesar Rp 30 juta. Selain itu, mereka juga memperoleh beasiswa kuliah gratis dari Universitas Nasional dan lolos ke babak Play-Ins Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2027 Spring.

Sementara tim lain di peringkat tiga besar juga mendapatkan dana pendidikan serta beasiswa kuliah dari UNAS, masing-masing 70 persen untuk peringkat kedua dan 50 persen untuk peringkat ketiga. Adapun, tim finalis lainnya memperoleh gratis biaya formulir pendaftaran di UNAS.