Ia mengatakan bahwa angka tersebut jauh di atas asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang berada di level US$ 70 per barel.
"Di target APBN kita itu US$ 70 per barel. Jadi bayangkan berapa subsidi kita, Bapak, Ibu semua? Putar otak lagi. Saya katakan kepada Presiden, Pak ini urusan energi ini urusan hajat hidup orang banyak. Kita harus mampu membuat rumusan kebijakan yang sekalipun kondisi global itu terjadi yang luar biasa, tapi kepastian terhadap harga harus kita jaga," katanya.
Bahlil menyampaikan langkah yang dilakukan pemerintah dalam mengamankan pasokan BBM adalah dengan membeli minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia. Namun langkah membeli minyak dari Rusia tersebut mendapatkan pertanyaan dari sejumlah pihak soal hubungan diplomatik.
Bahlil menegaskan Indonesia merupakan negara merdeka yang menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Intinya kata Bahlil, Indonesia akan mencari sumber minyak dari berbagai negara asalkan barangnya ada dan harganya murah.