NADIKABAR.COM — RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tak cuma terkenal karena Erte English mereka. Menurut penjelasan dari Imam Basori (43) sang ketua RT, masih ada satu pilar yang belum terwujudkan secara penuh di lingkungan mereka.

Kepada NadiKabar, Ibas (sapaan akrabnya) menuturkan ada empat pilar yang ingin dibangun RT 11: keamanan, lingkungan, pendidikan, dan ekonomi. Poin pertama sudah diwujudkan lewat rangkaian program seperti E-Gate 11, CCTV, 'Si Jaga Warga' sabagai pesan masyarakat, sampai 'Panic Button'. Poin lingkungan juga terlaksana lewat Komposter Keliling (Komling) dan Komposter Mandiri (Koma).

Nah, aspek pendidikan dan ekonomi, secara tidak disengaja ternyata dibangun hampir bersamaan.

Dari aspek ekonomi, Ibas mengatakan RT 11 sedang mengembangkan aplikasi RT 11 Mart dengan sistem-sistem mirip layanan pesan antar makanan di aplikasi ojek online.

"Kita hanya menjual makanan UMKM yang ada di lingkungan kami. Ada warung-warung, bakso, ketoprak, gorengan dan sebagainya, nanti akan saya input dalam database yang ada di aplikasi," terang Ibas.

Menariknya, aplikasi ini adalah hasil pengembangan warga yang memang pintar coding. Begitu pula nanti begitu aplikasi ini meluncur, semua warga berpotensi memiliki pemasukan tambahan, bahkan untuk anak-anak. Siapa saja yang ingin menjadi kurir di lingkungan RT 11, hanya perlu mendaftar ke Ketua RT dan pengurus.

"Yang penting dia pegang HP. Anak-anak justru menjadi semangat, bisa jadi dapat jajan, kan? Karena nanti bagi hasil, separuh untuk kurir, separuh untuk aplikasi," ucapnya. Uang untuk aplikasi pun bukan masuk ke kantong pengurus RT. No, no, ya. Uang tersebut akan digunakan sebagai kas warga yang mana akan dipakai lagi untuk pembangunan RT 11.

Sementara ini, aplikasi RT 11 Mart belum diluncurkan. Namun, peluncurannya dijadwalkan akan bersamaan dengan launching Erte Inggris. Erte English adalah proyek yang akan menjadikan RT 11 seperti daerah potensial turis semacam Kampung Inggris di Pare, Kediri.

"Setelah masyarakat sudah tiga bulan berjalan, sudah bagus speaking-nya. Tapi, untuk saat ini sudah bagus. Mereka sudah terbiasa untuk transaksi jual-beli menggunakan Bahasa Inggris," aku Ibas.

RT 11 telah bekerja sama dengan tim yang ada di Kampung Inggris, Pare. Bahkan, empat pengajar diterbangkan langsung dari sana untuk mengajar Bahasa Inggris kepada warga RT 11 dari segala usia. Warga belajar tidak dipungut biaya, alias gratis.

"Soal masalah makan gratis, di sini nggak ada yang kelaparan, karena RT 11 sudah menyajikan ketahanan pangan. Warga masing-masing sudah ada sayur-sayuran dan juga kolam-kolam yang bisa diambil secara gratis," kata Ibas.

"Berikutnya saya lagi membangun ekonominya. Harapan saya dari memaksimalkan Erte English tadi, ada pendapatan buat lingkungan kami, buat warga kami. Lumayan kalau ada sumbangan tamu dari luar, sisa mengangkat Jakarta juga jadi pusat wisata," imbuhnya.

Terakhir, Ibas sebenarnya menyimpan harapan agar pemerintah memberikan bantuan untuk solar panel. Mengingat kondisi harga bahan bakar yang semakin naik, begitu pula tarif listrik, panel surya akan sangat membantu RT 11 menghemat anggaran yang mereka punya.

"Kaitan dengan penerangan mungkin bisa dibantu dengan solar panel. Meskipun kita punya tapi kecil. Komling juga kecil solar panel-nya. Mudah-mudahan kalau ada ruang dari pemerintah memberikan solar panel buat lingkungan kami untuk lampu-lampu yang kita pasang," ungkapnya.

"Selama ini kan kita menggunakan token. Mungkin bisa meringankan beban kami dan juga untuk mendukung mensukseskan Erte English," tutupnya.