NADIKABAR.COM — Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat di Nusa Tenggara Barat (NTB) menekankan pendidikan karakter melalui sistem asrama dengan membekali siswa kemampuan akademik, nilai spiritual, kedisiplinan, dan keterampilan berinteraksi sosial.
Kepala SRMP 18 Lombok Barat Satria Irwandi mengatakan sistem pendidikan berasrama membentuk karakter tidak hanya selama kegiatan belajar di kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
"Siswa tidak hanya diajarkan kemampuan secara kognitif, namun juga kemampuan spiritual, kemampuan bagaimana mereka berinteraksi dengan sesama," ujarnya saat ditemui di SRMP 18 Lombok Barat, NTB, Sabtu.
Satria menegaskan pembentukan karakter menjadi bagian penting dalam sistem pembelajaran sekolah rakyat mengingat kecerdasan akademik perlu diimbangi dengan perilaku yang baik.
Menurut dia, siswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga perlu dibekali sikap disiplin, kemampuan bersosialisasi, serta nilai-nilai yang mendukung perkembangan mereka.
"Kami mengawasi mereka selama 24 jam, sehingga ada pengasuhan yang kami terapkan di situ yang membangun karakter mereka. Ada peran wali asuh dan wali asrama sebagai pengganti orang tua," kata Satria.
Selain pendidikan karakter, SRMP 18 Lombok Barat juga menerapkan pendekatan inklusif dengan menerima siswa dari keluarga miskin dengan berbagai latar belakang dan kemampuan akademik.
Satria menuturkan siswa yang mengalami keterlambatan membaca, terlibat perkelahian atau menghadapi persoalan lainnya tidak serta-merta dikeluarkan dari Sekolah Rakyat.
SRMP 18 Lombok Barat terlebih dahulu melakukan asesmen untuk memahami persoalan yang dihadapi siswa sebelum menentukan bentuk penanganan yang diperlukan.
"Kami minta bantuan pihak Sentra Paramita sebagai perwakilan Kementerian Sosial di NTB, yaitu dari psikolog untuk memeriksa," papar Satria.
SRMP 18 Lombok Barat saat ini memiliki 100 siswa yang didampingi 14 guru. Sekolah rintisan tersebut juga didukung tenaga wali asuh, wali asrama, hingga petugas dapur dalam menyelenggarakan pendidikan berbasis asrama.
Siswa kelas VIII SRMP Lombok Barat Muhammad Marzuki mengaku senang mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat, terutama saat mempelajari ilmu pengetahuan alam (IPA).
Siswa berusia 14 tahun yang bercita-bercita menjadi dokter itu berharap bisa terus melanjutkan sekolah hingga ke jenjang kuliah.
"Fasilitas sekolah rakyat sangat banyak. Saat awal masuk ke sini, saya tidak tahu bagaimana cara mempelajarinya," kata anak buruh tani yang pandai berbahasa Jepang tersebut.