Artinya, menaikkan suku bunga dapat membantu rupiah, tetapi bukan obat tanpa biaya. Suku bunga yang terlalu tinggi meningkatkan cost of capital, menekan kredit, investasi, valuasi aset, dan akhirnya pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan yang terlalu agresif mempertahankan rupiah hari ini justru dapat melemahkan fundamental yang menopang rupiah pada masa depan. Karena itu, BI-Rate sebaiknya tetap menjadi bagian dari policy mix, bukan satu-satunya benteng pertahanan.

Dari Devisa Ekspor Menjadi Permintaan Rupiah

Strategi kedua lebih struktural: memastikan devisa yang dihasilkan ekonomi Indonesia benar-benar berputar di sistem keuangan domestik.

Kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam bergerak ke arah tersebut. Ketentuan terbaru mewajibkan repatriasi 100% DHE SDA. Untuk sektor nonmigas, secara umum berlaku retensi 100% selama paling sedikit 12 bulan, sementara migas paling sedikit 30% selama tiga bulan, dengan sejumlah ketentuan dan fleksibilitas khusus yang telah diatur pemerintah. Namun repatriasi devisa tidak identik dengan penguatan rupiah.

Dolar dapat masuk ke Indonesia tetapi tetap disimpan dalam denominasi dolar. Dampaknya terhadap permintaan rupiah terbatas. Kebijakan DHE akan lebih efektif apabila ekosistem keuangan domestik mampu membuat eksportir secara ekonomis tertarik menggunakan, menginvestasikan, atau mengonversi sebagian devisanya di dalam negeri.

Ini berarti Indonesia membutuhkan instrumen investasi valas domestik yang kompetitif, pasar hedging yang dalam, biaya transaksi rendah, serta instrumen rupiah yang menawarkan risk-adjusted return menarik.

Tujuannya bukan memaksa semua dolar berubah menjadi rupiah. Tujuannya membuat pemegang dolar mempunyai alasan ekonomi untuk tetap berada dalam sistem keuangan Indonesia.

Pada saat yang sama, ketergantungan terhadap dolar pada sisi permintaan perlu dikurangi. Pengembangan Local Currency Transaction dalam perdagangan dan investasi dengan negara mitra menjadi relevan. Jika sebagian perdagangan Indonesia dapat diselesaikan menggunakan mata uang lokal, kebutuhan dolar untuk transaksi lintas negara dapat berkurang.

Jadi strategi nilai tukar harus bekerja dari dua arah: meningkatkan pasokan devisa sekaligus mengurangi ketergantungan permintaan terhadap dolar.