Rupiah Kuat Membutuhkan Ekonomi yang Produktif
Namun terdapat strategi yang lebih fundamental daripada intervensi, suku bunga, bahkan DHE: memperbaiki struktur ekonomi.Surplus perdagangan Indonesia Januari-Agustus 2026 memang US$7,25 miliar, tetapi di balik angka tersebut terdapat informasi penting. Surplus nonmigas mencapai US$28,54 miliar, sedangkan migas mengalami defisit US$21,29 miliar. Angkanya benar. Tetapi cerita di balik angka jauh lebih penting.
Defisit migas menunjukkan bahwa sebagian permintaan dolar bersifat struktural. Selama kebutuhan energi domestik sangat bergantung pada impor, peningkatan aktivitas ekonomi dapat sekaligus meningkatkan permintaan valuta asing.
Karena itu, hilirisasi seharusnya tidak hanya dipahami sebagai meningkatkan nilai tambah ekspor. Hilirisasi yang berhasil harus mampu memperbesar kandungan domestik, mengurangi ketergantungan impor, menghasilkan ekspor bernilai tambah tinggi, dan menarik investasi langsung asing yang produktif.
FDI mempunyai karakter berbeda dengan portfolio flow. Modal portofolio dapat keluar dalam hitungan detik ketika persepsi risiko berubah. Investasi langsung pada pabrik, infrastruktur, pusat data, industri baterai, atau manufaktur jauh lebih sticky.
Rupiah yang terlalu bergantung pada hot money akan selalu sensitif terhadap perubahan suku bunga global. Rupiah yang ditopang ekspor bernilai tambah, FDI, produktivitas, dan pasar keuangan domestik yang dalam mempunyai fondasi berbeda.
Karena itu, strategi penguatan rupiah dapat dibaca melalui tiga horizon. Dalam jangka pendek, BI menjaga volatilitas melalui suku bunga, intervensi dan instrumen moneter. Dalam jangka menengah, pemerintah dan BI memperkuat DHE, transaksi mata uang lokal, pendalaman pasar valas serta daya tarik aset rupiah. Dalam jangka panjang, jawabannya adalah produktivitas, investasi, substitusi impor yang efisien dan ekspor bernilai tambah.
Rupiah tentu dapat menguat ketika dolar melemah. Tetapi itu bukan keberhasilan struktural Indonesia; itu perubahan kondisi eksternal. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah ketika rupiah mampu bertahan saat dolar sedang kuat.
Pada akhirnya, nilai tukar bukan sekadar angka yang bergerak setiap hari di layar pasar. Ia adalah harga yang diberikan dunia terhadap produktivitas, kredibilitas kebijakan, imbal hasil, dan risiko sebuah negara. Karena itu, strategi terbaik menguatkan rupiah bukan membuat dolar sulit keluar, melainkan membuat modal memiliki alasan kuat untuk masuk dan alasan yang lebih kuat lagi untuk tetap tinggal.
Pardomuan SihombingPraktisi Pasar Modal