NADIKABAR.COM — Mengapa rupiah masih berada di sekitar Rp 17.900 per dolar AS ketika Indonesia tetap mencatat surplus perdagangan? Pertanyaan ini tampak sederhana.
Logikanya, ekspor yang lebih besar daripada impor menghasilkan devisa dan seharusnya menambah pasokan dolar di dalam negeri. Namun pasar valuta asing bekerja dengan logika yang lebih kompleks.
Rupiah tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak dolar yang masuk dari perdagangan hari ini, tetapi juga oleh ke mana modal bergerak dan bagaimana investor menilai risiko Indonesia esok hari.
Data terbaru menunjukkan paradoks tersebut. JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.910 per dolar AS pada 6 Oktober 2026. Padahal, BPS mencatat ekspor Januari-Agustus 2026 sebesar US$ 193,64 miliar dan impor US$ 186,39 miliar, sehingga neraca perdagangan masih surplus US$ 7,25 miliar.
Masalahnya, impor tumbuh 19,84%, jauh lebih cepat daripada ekspor yang hanya meningkat 4,74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus masih ada, tetapi bantalan eksternalnya menyempit.
Di sinilah kita perlu mengubah pertanyaan. Bukan hanya, "Mengapa rupiah melemah?", tetapi "Bagaimana membuat permintaan terhadap rupiah meningkat secara berkelanjutan?"
Rupiah Adalah Harga dari Kepercayaan
Nilai tukar pada dasarnya merupakan harga relatif antara dua mata uang. Karena itu, memperkuat rupiah tidak cukup dilakukan dengan menjual dolar ke pasar.
Intervensi memang penting untuk meredam volatilitas berlebihan, tetapi kekuatan mata uang dalam jangka panjang ditentukan oleh kemampuan suatu perekonomian menciptakan permintaan terhadap mata uangnya.
Bank Indonesia saat ini mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. Kebijakan tersebut secara eksplisit diarahkan antara lain untuk stabilisasi rupiah di tengah tekanan eksternal. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat sekitar US$ 146,5 miliar.
Dalam kerangka interest rate parity, tingkat bunga yang kompetitif dapat meningkatkan daya tarik aset rupiah. Investor global membandingkan bukan sekadar yield Indonesia dengan Amerika Serikat, tetapi expected return setelah memperhitungkan risiko depresiasi rupiah. Yield tinggi menjadi kurang menarik apabila investor memperkirakan mata uang akan melemah lebih besar.
Artinya, menaikkan suku bunga dapat membantu rupiah, tetapi bukan obat tanpa biaya. Suku bunga yang terlalu tinggi meningkatkan cost of capital, menekan kredit, investasi, valuasi aset, dan akhirnya pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan yang terlalu agresif mempertahankan rupiah hari ini justru dapat melemahkan fundamental yang menopang rupiah pada masa depan. Karena itu, BI-Rate sebaiknya tetap menjadi bagian dari policy mix, bukan satu-satunya benteng pertahanan.
Dari Devisa Ekspor Menjadi Permintaan Rupiah
Strategi kedua lebih struktural: memastikan devisa yang dihasilkan ekonomi Indonesia benar-benar berputar di sistem keuangan domestik.
Kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam bergerak ke arah tersebut. Ketentuan terbaru mewajibkan repatriasi 100% DHE SDA. Untuk sektor nonmigas, secara umum berlaku retensi 100% selama paling sedikit 12 bulan, sementara migas paling sedikit 30% selama tiga bulan, dengan sejumlah ketentuan dan fleksibilitas khusus yang telah diatur pemerintah. Namun repatriasi devisa tidak identik dengan penguatan rupiah.
Dolar dapat masuk ke Indonesia tetapi tetap disimpan dalam denominasi dolar. Dampaknya terhadap permintaan rupiah terbatas. Kebijakan DHE akan lebih efektif apabila ekosistem keuangan domestik mampu membuat eksportir secara ekonomis tertarik menggunakan, menginvestasikan, atau mengonversi sebagian devisanya di dalam negeri.
Ini berarti Indonesia membutuhkan instrumen investasi valas domestik yang kompetitif, pasar hedging yang dalam, biaya transaksi rendah, serta instrumen rupiah yang menawarkan risk-adjusted return menarik.
Tujuannya bukan memaksa semua dolar berubah menjadi rupiah. Tujuannya membuat pemegang dolar mempunyai alasan ekonomi untuk tetap berada dalam sistem keuangan Indonesia.
Pada saat yang sama, ketergantungan terhadap dolar pada sisi permintaan perlu dikurangi. Pengembangan Local Currency Transaction dalam perdagangan dan investasi dengan negara mitra menjadi relevan. Jika sebagian perdagangan Indonesia dapat diselesaikan menggunakan mata uang lokal, kebutuhan dolar untuk transaksi lintas negara dapat berkurang.
Jadi strategi nilai tukar harus bekerja dari dua arah: meningkatkan pasokan devisa sekaligus mengurangi ketergantungan permintaan terhadap dolar.
Rupiah Kuat Membutuhkan Ekonomi yang Produktif
Namun terdapat strategi yang lebih fundamental daripada intervensi, suku bunga, bahkan DHE: memperbaiki struktur ekonomi.Surplus perdagangan Indonesia Januari-Agustus 2026 memang US$7,25 miliar, tetapi di balik angka tersebut terdapat informasi penting. Surplus nonmigas mencapai US$28,54 miliar, sedangkan migas mengalami defisit US$21,29 miliar. Angkanya benar. Tetapi cerita di balik angka jauh lebih penting.
Defisit migas menunjukkan bahwa sebagian permintaan dolar bersifat struktural. Selama kebutuhan energi domestik sangat bergantung pada impor, peningkatan aktivitas ekonomi dapat sekaligus meningkatkan permintaan valuta asing.
Karena itu, hilirisasi seharusnya tidak hanya dipahami sebagai meningkatkan nilai tambah ekspor. Hilirisasi yang berhasil harus mampu memperbesar kandungan domestik, mengurangi ketergantungan impor, menghasilkan ekspor bernilai tambah tinggi, dan menarik investasi langsung asing yang produktif.
FDI mempunyai karakter berbeda dengan portfolio flow. Modal portofolio dapat keluar dalam hitungan detik ketika persepsi risiko berubah. Investasi langsung pada pabrik, infrastruktur, pusat data, industri baterai, atau manufaktur jauh lebih sticky.
Rupiah yang terlalu bergantung pada hot money akan selalu sensitif terhadap perubahan suku bunga global. Rupiah yang ditopang ekspor bernilai tambah, FDI, produktivitas, dan pasar keuangan domestik yang dalam mempunyai fondasi berbeda.
Karena itu, strategi penguatan rupiah dapat dibaca melalui tiga horizon. Dalam jangka pendek, BI menjaga volatilitas melalui suku bunga, intervensi dan instrumen moneter. Dalam jangka menengah, pemerintah dan BI memperkuat DHE, transaksi mata uang lokal, pendalaman pasar valas serta daya tarik aset rupiah. Dalam jangka panjang, jawabannya adalah produktivitas, investasi, substitusi impor yang efisien dan ekspor bernilai tambah.
Rupiah tentu dapat menguat ketika dolar melemah. Tetapi itu bukan keberhasilan struktural Indonesia; itu perubahan kondisi eksternal. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah ketika rupiah mampu bertahan saat dolar sedang kuat.
Pada akhirnya, nilai tukar bukan sekadar angka yang bergerak setiap hari di layar pasar. Ia adalah harga yang diberikan dunia terhadap produktivitas, kredibilitas kebijakan, imbal hasil, dan risiko sebuah negara. Karena itu, strategi terbaik menguatkan rupiah bukan membuat dolar sulit keluar, melainkan membuat modal memiliki alasan kuat untuk masuk dan alasan yang lebih kuat lagi untuk tetap tinggal.
Pardomuan SihombingPraktisi Pasar Modal