Gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dan kemarau panjang di beberapa sentra disebut menjadi salah satu penyebabnya. Kemendagri mencatat, komoditas beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras juga masuk dalam daftar yang perlu dipantau.
Untuk mengatasi ketimpangan pasokan, pemerintah memfasilitasi perdagangan antardaerah bagi cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Pemerintah daerah bersama Bulog juga telah melaksanakan operasi pasar di 134 daerah yang mengalami kenaikan harga beras.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) turut ambil peran memperkuat Gerakan Pangan Murah dan Fasilitasi Distribusi Pangan untuk mengatasi gejolak harga cabai. Hingga 23 Oktober 2026, Bapanas telah menyelenggarakan 11.822 kegiatan GPM sejak awal tahun.
Sebanyak 140 titik GPM disiapkan pada pekan kelima Oktober, dengan sebaran antara lain di Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Bengkulu, Kalimantan Selatan, hingga Jawa Timur.
Dalam rilis resmi, Bapanas menyatakan bahwa penyelenggaraan GPM bertujuan menjaga keterjangkauan pangan, serta sebagai respons atas gejolak harga.
Dengan cadangan beras yang memadai, kepastian keberlanjutan produksi, serta berbagai intervensi distribusi dan harga, pemerintah optimistis ketahanan pangan nasional akan tetap terjaga menjelang Nataru.