Pemerintah Singapura sebelumnya telah menggelontorkan berbagai insentif yang berfokus pada kelahiran. Namun, setelah lebih dari 20 tahun diterapkan, dampaknya kurang terlihat. Malahan, semakin banyak warga Singapura yang tetap melajang dan semakin banyak pasangan menikah yang tidak memiliki anak.

Angka kesuburan total (TFR) penduduk telah menurun selama beberapa dekade terakhir. Sebagai contoh, TFR (Total Fertility Rate) adalah 1,41 pada tahun 2001, tahun di mana skema Baby Bonus pertama kali diberlakukan. Pada tahun 2011, angka ini turun menjadi 1,2, dan turun ke titik terendah baru, yaitu 0,87 pada tahun 2025.

Laporan Pendaftaran Kelahiran dan Kematian 2025 Singapura mencatat, sebanyak 29.864 bayi lahir pada tahun 2025, turun 11,4% dibandingkan dengan 33.703 kelahiran pada tahun 2024. Sedangkan bila dibandingkan dengan angka kematian, gapnya hanya sebesar 3.365 lebih rendah dari angka kelahiran, kondisi terendah sepanjang sejarah.

Atas kondisi tersebut, dilakukan peralihan dari yang semula memberikan insentif kelahiran ke mendukung peran sebagai orang tua. Pemerintah berupaya untuk menciptakan lingkungan yang ramah keluarga di Singapura, mulai dari mengatasi kekhawatiran orang tua muda tentang pendidikan, perawatan anak, hingga perumahan.