NADIKABAR.COM — Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Timur (Jaktim) mewaspadai peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) saat memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan.

"Tren peningkatan kasus DBD biasanya terjadi ketika memasuki peralihan musim kemarau menuju musim penghujan. Musim penghujan biasanya terjadi menjelang akhir tahun," kata Kepala Sudin Kesehatan Jakarta Timur Arief Wahyudhy saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Menurut Arief, pola kasus DBD di Jakarta Timur umumnya mengalami peningkatan pada awal tahun dan mencapai puncak sekitar Mei hingga Juni. Kemudian, mengalami penurunan menjelang akhir tahun. Pola tersebut terlihat dalam perkembangan kasus selama dua tahun terakhir.

"Tahun 2025 peningkatan terjadi mulai awal tahun dan puncak kasus terjadi pada bulan Juli 2025," ujar Arief.

Sedangkan pada 2026, peningkatan kasus terjadi sejak Januari hingga Maret, kemudian mengalami penurunan pada April dan Mei.

Meski demikian, Arief mengatakan tren kasus antara Juli dan Agustus 2026 kembali menunjukkan penurunan. Pada Agustus 2026, tercatat sebanyak 48 kasus DBD. Jumlah pasien rawat inap akibat DBD pada periode 20-26 Agustus 2026 tercatat sebanyak 11 kasus.

Arief menjelaskan, faktor lingkungan turut berperan dalam peningkatan kasus DBD. Kondisi lingkungan yang menyediakan banyak tempat perkembangbiakan nyamuk dapat meningkatkan risiko penularan di masyarakat.

"Beberapa hal yang berpengaruh terhadap peningkatan kasus antara lain kondisi lingkungan yang mendukung banyaknya tempat perkembangbiakan nyamuk, kondisi iklim yang menyebabkan tingginya populasi nyamuk penular DBD, musim penghujan dan peralihan," jelas Arief.

Selain perubahan musim, kepadatan penduduk dan tingginya mobilitas masyarakat juga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pola penyebaran kasus.

Hal tersebut terlihat dari kelompok usia yang paling banyak terjangkit. Kasus infeksi dengue di Jakarta Timur didominasi kelompok usia 20-44 tahun dengan proporsi sekitar 33 persen.

"Selain itu, proporsi kasus pada kelompok usia sekolah, yaitu 5-9 tahun, 10– 14 tahun, dan 15–19 tahun, juga cukup tinggi," ucapnya.

Kecamatan Cakung tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus DBD tertinggi di Jakarta Timur hingga saat ini, yakni 360 kasus. Sementara itu, Kecamatan Matraman memiliki angka kesakitan atau incidence rate (IR) tertinggi, yakni 141,68 per 100.000 penduduk dengan jumlah kasus sebanyak 259 kasus.

Sudin Kesehatan Jakarta Timur juga mencatat lima kematian akibat infeksi dengue sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Lima kematian tersebut terdiri atas dua kasus di Kecamatan Pulogadung serta masing-masing satu kasus di Kecamatan Cakung, Ciracas, dan Matraman.

"Perlunya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi peningkatan kasus, terutama ketika kondisi cuaca mulai memasuki masa peralihan," kata Arief.

Dia berharap, masyarakat terus memperhatikan lingkungan sekitar rumah dan tempat beraktivitas untuk memastikan tidak terdapat wadah atau genangan air yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.