Domeier dan timnya menggunakan pendekatan berbeda. Mereka memanfaatkan peta perubahan wilayah benua yang tergenang atau terbuka oleh laut selama 320 juta tahun terakhir. Data tersebut disusun dalam interval sekitar 10 juta tahun.

Ketika TPW terjadi, bagian padat Bumi dapat bergeser relatif terhadap tonjolan khatulistiwa yang terbentuk akibat rotasi. Laut merespons perubahan tersebut lebih cepat daripada mantel dan litosfer menyesuaikan bentuknya.

Akibatnya, muncul pola tertentu, beberapa wilayah benua mengalami kenaikan muka laut relatif dan tergenang, sementara wilayah lain mengalami penurunan muka laut relatif dan menjadi lebih terbuka.

Pola tersebut membentuk konfigurasi khas dengan empat wilayah besar yang berlawanan, dua mengalami kenaikan dan dua mengalami penurunan. Dengan menganalisis pola tersebut menggunakan pemodelan statistik, para peneliti menemukan empat interval yang melewati ambang statistik.

Keempatnya adalah, periode 200-190 juta tahun lalu, 150-140 juta tahun lalu, 100-90 juta tahun lalu, dan 30-20 juta tahun lalu. Namun, kekuatan buktinya tidak sama.

Episode 150-140 juta tahun lalu menjadi salah satu sinyal terkuat. Periode ini berlangsung pada penghujung Jura hingga awal Kapur. Pada masa tersebut, wilayah yang kini menjadi bagian dari Amerika Selatan, Antarktika, dan Asia timur menunjukkan pola kenaikan muka laut relatif. Sebaliknya, sebagian Amerika Utara bagian barat daya, Eropa barat, dan Australia timur menunjukkan pola penurunan muka laut relatif.

Para peneliti merekonstruksi adanya reorientasi searah jarum jam di sekitar sumbu yang berada dekat 58 derajat bujur timur. Episode kuat lainnya terjadi sekitar 100-90 juta tahun lalu, pada periode Kapur. Kali ini arah pola perubahannya berlawanan, dengan rotasi yang diperkirakan terjadi di sekitar sumbu dekat 53 derajat bujur timur.

Dalam konteks manusia, pergerakan tersebut tetap sangat lambat. Namun, bagi proses geologi, pergeserannya tergolong cepat. Berdasarkan pemodelan fisik sebelumnya, pola yang terlihat dalam rekonstruksi dengan resolusi 10 juta tahun umumnya membutuhkan laju TPW setidaknya sekitar 0,6 derajat per juta tahun agar dapat menghasilkan pola yang terdeteksi.

Karena itu, para peneliti menggolongkannya sebagai rapid true polar wander atau pergeseran kutub sejati yang relatif cepat dalam skala waktu geologi. Istilah 'cepat' di sini tentu tidak berarti Bumi bergeser secara mendadak dalam hitungan hari atau tahun. Satu episode berlangsung dalam skala jutaan tahun.