Jika TPW berlangsung cepat, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan posisi geografis. Perubahan posisi benua terhadap sumbu rotasi dapat membuat suatu wilayah bergerak melewati sabuk iklim yang berbeda.
Akibatnya, pola suhu, curah hujan, lingkungan laut, hingga habitat dapat berubah tanpa harus didahului perubahan besar pada konsentrasi gas rumah kaca. Inilah salah satu alasan mengapa penelitian TPW menarik bagi ilmuwan yang mempelajari iklim dan kehidupan purba.
"Menunjukkan bahwa TPW merupakan pengendali perubahan muka laut yang bersifat episodik dan kemungkinan juga memengaruhi dinamika lingkungan serta biologis global lainnya," tulis tim peneliti seperti dikutip dari The Brighter Side News.
"Episode serupa dari TPW cepat kemungkinan telah terjadi pada periode-periode lebih awal dalam sejarah Bumi," mereka menyimpulkan.
Meski memberikan bukti baru, studi ini belum berarti perdebatan mengenai TPW telah selesai. Penelitian sebelumnya memberikan hasil yang berbeda. Sebuah studi 2025 di AGU Advances misalnya, menemukan bahwa TPW selama 320 juta tahun terakhir cenderung besar tetapi berlangsung relatif lambat, dan tidak menemukan bukti untuk beberapa episode cepat yang pernah diusulkan.
Ada pula penelitian lain yang mendukung adanya pergeseran cepat. Studi Nature Communications 2024 menemukan bukti pergeseran sekitar 12 derajat ke selatan, kemudian diikuti pergeseran sekitar 10 derajat ke utara pada periode 155-141 juta tahun lalu.
Artinya, sejarah pergerakan sumbu rotasi Bumi masih menjadi bidang penelitian aktif. Yang membuat studi terbaru ini penting adalah jenis buktinya berbeda. Alih-alih hanya mengandalkan medan magnet yang terekam dalam batuan, para ilmuwan menggunakan pola banjir laut purba sebagai rekaman independen.
Jika hasil tersebut terus didukung penelitian lain, gambaran Bumi pada era dinosaurus mungkin harus sedikit diubah, bukan hanya benua yang bergerak di atas lempeng tektonik, tetapi seluruh bagian padat planet juga dapat mengalami reorientasi terhadap sumbu rotasinya dalam episode tertentu.