Gagasan membangun cadangan pangan berlapis-dari desa dan kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga tingkat nasional-patut didorong sebagai strategi ketahanan masyarakat. Sistem ini penting terutama bagi daerah rawan bencana, wilayah kepulauan, serta kawasan yang akses logistiknya dapat terganggu sewaktu-waktu.

Lumbung pangan modern harus dipadukan dengan penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Koperasi tidak hanya menjadi tempat penyaluran barang, tetapi harus tumbuh sebagai institusi ekonomi rakyat yang mampu menjadi offtaker hasil pertanian, menyediakan sarana produksi, membangun gudang dan cold storage, serta memperpendek rantai distribusi. Dengan demikian, nilai tambah hasil pertanian tidak habis di tengah jalan, melainkan kembali kepada petani dan masyarakat desa.

Pemerintah juga perlu mendorong diversifikasi pangan secara serius. Beras tetap menjadi pangan utama, tetapi ketahanan pangan nasional akan lebih kuat bila daerah mengembangkan komoditas sesuai keunggulan lokal: jagung, sorgum, sagu, singkong, ubi, kedelai, kacang-kacangan, hortikultura, perikanan, dan peternakan. Diversifikasi bukan berarti mengurangi arti beras, melainkan memperbesar pilihan pangan dan mengurangi kerentanan terhadap satu komoditas.

Di sisi lain, diplomasi ekonomi Presiden Prabowo telah menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama dan investasi yang signifikan. Namun, satu prinsip harus dijaga: komitmen investasi tidak sama dengan realisasi investasi. Komitmen merupakan pintu masuk; realisasi adalah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.

Dalam Indonesia-US Business Summit di Washington D.C. pada Februari 2026, ditandatangani 11 nota kesepahaman antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat senilai US$38,4 miliar. Kerja sama tersebut mencakup mineral kritis, energi, agribisnis, tekstil, manufaktur furnitur, hingga teknologi semikonduktor.

Dengan Jepang, komitmen investasi yang disampaikan dalam kunjungan Presiden pada Maret 2026 mencapai sekitar US$23,6 miliar. Bidang yang ditekankan mencakup energi, industri, digital, properti, kendaraan rendah emisi, dan pengembangan proyek strategis seperti LNG Abadi Blok Masela.

Kerja sama Indonesia-Arab Saudi juga menghasilkan kesepakatan investasi senilai US$27 miliar, terutama di bidang energi, petrokimia, energi bersih, dan sektor kesehatan. Sementara itu, Qatar menyampaikan komitmen investasi US$4 miliar, dengan peluang perluasan investasi pada sektor-sektor strategis lainnya.

Hubungan ekonomi dengan Tiongkok pun terus diperkuat. Pemerintah mencatat investasi yang telah disepakati senilai lebih dari US$10 miliar berada dalam tahap implementasi, terutama pada sektor industri, hilirisasi, energi, dan teknologi.