Ia memaparkan bahwa tabungan yang naik karena pendapatan bertambah, daya beli membaik, dan kebutuhan dasar sudah terpenuhi memang menjadi sinyal positif.
Namun, kondisinya menjadi lain jika masyarakat membatasi belanja barang nonpokok atau menunda pembelian barang tahan lama karena khawatir akan kepastian kerja, pendapatan, hingga laju inflasi ke depan.
Dalam situasi saat ini, Ronny menilai kenaikan simpanan justru mencerminkan sikap defensif rumah tangga.
"Pembeda utamanya adalah sumber kenaikan tabungan dan perilaku ekonomi yang menyertainya. Kalau tabungan naik karena pendapatan bertambah, itu kabar baik. Tetapi kalau tabungan naik karena masyarakat takut pendapatannya terganggu atau merasa tidak aman membelanjakan uangnya, itu merupakan sinyal kehati-hatian yang perlu diperhatikan pemerintah," ucapnya.
Ronny menekankan kunci untuk membedakan kedua kondisi tersebut terletak pada pergerakan indikator ekonomi lain. Apabila tabungan melonjak bersamaan dengan kenaikan pendapatan riil, upah, kesempatan kerja, serta konsumsi yang tetap tumbuh sehat, maka masyarakat memang semakin makmur.
Sebaliknya, jika simpanan naik tetapi pendapatan stagnan dan konsumsi melambat, hal itu mengindikasikan kuatnya motif berjaga-jaga (precautionary saving).
"Jangan sampai angka agregat terlihat baik, tetapi sebenarnya ditopang oleh kelompok masyarakat yang memang memiliki kapasitas menabung jauh lebih besar," ucapnya.
Senada, Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai lonjakan tabungan saat ini belum bisa disimpulkan sebagai bukti kesejahteraan masyarakat membaik.