Merujuk pada distribusi simpanan, pertumbuhan tertinggi didominasi oleh kelompok bersaldo besar di atas Rp5 miliar, sementara pertumbuhan tabungan kelas menengah relatif melambat.

"Data Survei Konsumen Bank Indonesia juga menunjukkan porsi pendapatan yang ditabung justru menurun, sementara porsi yang digunakan untuk konsumsi meningkat. Ini mengindikasikan banyak rumah tangga, khususnya kelas menengah, semakin sulit menyisihkan pendapatan karena biaya hidup yang terus naik," tutur Yusuf.

Menurutnya, fenomena yang terjadi saat ini adalah kombinasi dari sikap defensif kelompok atas yang memilih mengamankan dananya di bank, serta tekanan daya beli yang dialami kelompok menengah-bawah.

Jika tren menahan belanja ini berlangsung dalam waktu lama, dampaknya bisa menyeret perekonomian nasional mengingat konsumsi rumah tangga adalah penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

"Ketika masyarakat semakin berhati-hati membelanjakan uangnya, sektor perdagangan biasanya menjadi yang pertama merasakan dampaknya melalui perlambatan penjualan. Dari sana efeknya merambat ke manufaktur, investasi, hingga pasar tenaga kerja," jelasnya.

Yusuf juga menekankan perlambatan di sektor ritel dan perdagangan akan memaksa pabrikan serta industri manufaktur menahan kapasitas produksi, mengurangi pembelian bahan baku, hingga menunda rencana ekspansi usaha. Dengan begitu, imbasnya penyesuaian industri ini berpotensi menekan penyerapan tenaga kerja.

Di sisi lain, melimpahnya dana simpanan di perbankan juga tidak serta-merta menjamin roda ekonomi berputar kencang apabila permintaan kredit dari sektor riil dan rumah tangga lesu.

"Dalam situasi seperti itu, likuiditas sektor keuangan tetap longgar, tetapi aktivitas ekonomi riil bergerak lebih lambat. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi menjadi semakin sulit bertahan pada level tinggi," pungkasnya.