AS merupakan pendukung internasional dan pemasok senjata terpenting bagi Taiwan, meskipun tidak ada hubungan diplomatik resmi di antara keduanya.

Sementara China memandang Taiwan, yang memiliki pemerintahan demokratis, sebagai bagian wilayah kedaulatannya. Posisi itu ditolak keras oleh Presiden Taiwan Lai Ching-Te dan pemerintahannya, dengan Taiwan mempertahankan pemerintahan mandiri sejak tahun 1949 silam.

Pada Mei lalu, setelah bertemu Xi dalam kunjungannya ke Beijing, Trump mengatakan bahwa dirinya menunda rencana penjualan senjata baru ke Taiwan, dan menyebutnya sebagai "alat tawar-menawar yang baik" dalam hubungan dengan China.

Pendekatan transaksional semacam itu memicu kemarahan sejumlah pihak di Washington, yang memandang janji bantuan militer AS kepada Taiwan sebagai sebuah komitmen mendasar.

Kementerian Luar Negeri Taiwan menyebut China sebagai "pengacau sesungguhnya" bagi perdamaian dan stabilitas kawasan, dengan menyoroti ancaman militer Beijing di sekitar Taipei juga di Laut China Timur dan Laut China Selatan.