Qodari mengatakan ISF Waingapu dibangun di atas lahan seluas 2.150 hektare (ha), dengan 1.361 ha di antaranya akan digunakan untuk area tambak dan fasilitas pendukung. Lokasi tersebut dipilih sebagai bagian dari upaya mendorong pemerataan pembangunan di NTT yang masih menghadapi tantangan kemiskinan.

Program tersebut memiliki nilai investasi sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun, yang mencakup pembangunan kolam budi daya, tandon, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) klaster, jaringan intake, fasilitas karantina, jalan produksi, serta IPAL utama.

Hingga 29 Juli 2026, Qodari mengatakan progres pembangunan fisik telah mencapai sekitar 10% dengan melibatkan tenaga kerja lokal. Qodari melanjutkan bahwa kehadiran tambak tersebut tidak hanya akan meningkatkan produksi udang nasional, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi berantai.