NADIKABAR.COM — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membeberkan strategi untuk menambal defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang diperkirakan mencapai 2,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga akhir tahun. Di antaranya, dengan menerbitkan 12 surat utang dan menarik pinjaman menjelang akhir tahun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu Suminto mengatakan pemerintah masih mempunyai kesempatan untuk melelang 12 surat utang pada kuartal IV-2026.

"Saat ini, strategi kita adalah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN dengan skenario defisit 2,85%. Untuk memenuhi sisa kebutuhan pembiayaan di kuartal IV-2026, beberapa issuance akan masih kita lakukan," ujar Suminto saat konferensi pers APBN, di kantor Kemenkeu, dikutip Minggu (11/10/2026).

Suminto menjelaskan ada 12 SBN reguler yang terjadwal untuk dilelang. Rinciannya, enam kali Surat Utang Negara (SUN) dan enam kali Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

"Kita masih memiliki jadwal 12 kali lelang SBN reguler setiap hari selasa. Jadi 6 kali lelang SUN dan 6 kali lelang SBSN di kuartal keempat," jelasnya.

Selain lelang reguler, Suminto menyebut pemerintah juga telah menjadwalkan penerbitan SBN ritel, yakni Saving Bond Retail (SBR) 015 untuk konvensional dan Sukuk Tabungan (ST) 017 untuk instrumen syariah.

Namun, pemerintah akan mempertimbangkan penerbitan SBN valuta asing (valas) atau global bond dengan melihat situasi pasar keuangan global yang masih dinamis.

"Namun space untuk penerbitan itu masih ada subject to market condition. Dari sisi persiapan kami telah melakukan persiapan baik dari sisi dokumentasi hukum, dokumentasi transaksi yang diperlukan dalam hal nanti kami akan melakukan penerbitan SBN valas," bebernya.

Tak hanya itu, pemerintah juga berpotensi menarik pinjaman program dari lembaga bilateral dan multilateral sebesar US$ 1,8 miliar. Menurut Suminto, pinjaman tersebut siap ditarik pada kuartal IV-2026.

"Selain itu kami juga masih memiliki potensi penarikan pinjaman program dari bilateral dan multilateral sebesar US$1,8 miliar siap untuk ditarik di kuartal keempat," imbuh ia.

Sebelumnya, hingga akhir September 2026, pemerintah telah menarik utang baru Rp 494,3 triliun di tengah APBN defisit 319 triliun.

Penarikan utang ini setara 59,4% dari target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 832,2 triliun.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai pembiayaan utang ini tetap terjaga. Jika dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama, pembiayaan utang di tahun ini lebih rendah. Pada tahun lalu tercatat pembiayaan utang sebesar Rp 502,9 triliun atau 64,8% dari target APBN Rp 775,9 triliun.

Lebih rinci, utang baru itu berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 497,5 triliun atau 62,2% dari target APBN Rp 799,5 triliun. Kemudian, yang berasal dari pinjaman masih mencatatkan minus sebesar Rp 3,2 triliun.

"Jadi sudah 62,2%. Kita sangat memperhatikan kondisi pasar SBN dan juga kondisi ekonomi global di dunia," ujar Suahasil.