NADIKABAR.COM — Di balik kabar pilu penelantaran tujuh Anak Buah Kapal (ABK) di perairan Fiji, terselip kisah getir salah seorang krunya, Teteng Surgana (33). Warga Kampung Ciawun, RT 03/RW 08, Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi ini mulanya merupakan juru masak alias eks chef di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tergiur mengadu nasib ke luar negeri.
Kini, sang istri, Detri Jurfa Ulpia (33), hanya bisa meratapi nasib suaminya yang terkatung-katung di atas kapal penangkap ikan Yongxing tanpa kepastian gaji, makanan, hingga air bersih.
Saat dihubungi NadiKabar, nada suara Detri terdengar bergetar sejak awal perbincangan. Ia berusaha tegar dan sesekali menarik napas panjang untuk membendung kesedihannya saat menceritakan awal mula sang suami terbujuk iming-iming bekerja di laut lepas.
"Awalnya ada sponsor mencari yang mau berangkat. Suami tergiur karena dijanjikan gajinya di sana besar. Ada pembicaraan dengan sponsor entah apa, karena saya enggak tahu dan saya pun tidak tanda tangan izin," ujar Detri membuka cerita, Sabtu (22/8/2026).
Rencana keberangkatan itu sendiri sudah diproses sejak tahun 2025 lalu. Setelah penantian panjang, Teteng akhirnya resmi diberangkatkan ke Fiji pada 22 Juli 2026. Padahal, pihak keluarga sempat melarang keras keberangkatan tersebut.
Detri menceritakan, sebelum memutuskan melaut, suaminya itu memiliki pekerjaan di Palabuhanratu sebagai juru masak di dapur MBG, diselingi menjadi pengemudi ojek daring.
"Saya bilang, 'Udah jangan, di sini aja. Biarin gaji kecil yang penting di sini, mau makan mau enggak.' Tapi suami bilang, kalau batal berangkat harus ganti rugi ke pihak sponsor sebesar Rp 15 juta untuk ganti biaya paspor dan medical check up. Karena kepikiran beban itu, akhirnya dia terpaksa tetap berangkat," tuturnya dengan suara yang mulai tercekat menahan tangis.
Alih-alih memperbaiki taraf ekonomi, mimpi indah itu langsung buyar sesampainya Teteng di Fiji. Baru tiga hari berada di atas kapal, bos pengelola kapal asal China dikabarkan kabur membawa uang operasional perusahaan.
Suplai makanan yang hanya bertahan sepekan pun langsung ludes, hingga para ABK tidak menerima sepeser pun uang kiriman maupun gaji.
Saat menceritakan kondisi kedua buah hatinya, anak perempuan kelas 4 SD dan anak laki-laki yang masih berusia 4 tahun, pertahanan emosi Detri akhirnya runtuh. Tangisnya meledak tak lagi terbendung di ujung telepon.
"Saya pengin suami saya kembali lagi pulang. Biarin hidup susah di sini. Saya di sini pun bingung mau bagaimana buat makan anak-anak, buat jajan mereka sehari-hari saya sudah enggak tahu lagi," ucap Detri diiringi isak tangis yang terdengar pilu dan tersedu-sedu.
Detri berharap penuh kepada pihak pemerintah dan instansi terkait agar segera turun tangan mengevakuasi sang suami beserta para ABK lainnya yang saat ini masih terjebak di tengah perairan Suva, Fiji.