NADIKABAR.COM — Pemkot Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) melalui Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) mulai mendorong gerakan bersama untuk mengurangi pemborosan pangan melalui Gerakan Tanjungpinang Ajak Jaga Pangan (Tanjak Pangan).
"Gerakan ini mengajak masyarakat membangun kebiasaan bijak dalam mengelola pangan, dimulai dari lingkungan keluarga hingga dunia usaha," kata Kepala DP3 Tanjungpinang Robert Lukman, Rabu.
Robert menyebut Gerakan Tanjak Pangan mengusung pesan “Pangan Berharga, Jangan Disia-siakan” dan Love Food, Don’t Waste It. Gerakan ini diarahkan guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mencegah dan mengurangi sisa makanan.
Menurutnya sampai saat ini sisa pangan masih ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari rumah tangga, sekolah, hotel hingga restoran.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi kebiasaan memasak atau membeli makanan secara berlebihan, lalu makanan yang tidak dihabiskan, ketidaksesuaian porsi dan menu, serta belum optimalnya pemilahan dan pemanfaatan pangan yang masih layak.
Berdasarkan data awal pilot project di SMA Negeri 1 Tanjungpinang selama delapan hari menunjukkan rata-rata sisa pangan mencapai 139 gram per orang per hari, dengan protein menjadi komponen sisa terbesar. Sementara pada rumah tangga, rata-rata sisa pangan tercatat 95,9 gram per orang per hari.
Sedangkan pengamatan pada sektor hotel dan restoran juga menunjukkan pencatatan sisa pangan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pelaku usaha, khususnya dalam menyesuaikan menu, porsi, produksi, serta pemanfaatan pangan.
Robert menyampaikan melalui Gerakan Tanjak Pangan, masyarakat diajak melakukan langkah sederhana, seperti merencanakan belanja, membeli dan memasak sesuai kebutuhan, mengambil makanan secukupnya, menyimpan pangan dengan benar, mengolah kembali pangan yang masih layak, serta menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai ketentuan. Gerakan ini menerapkan pendekatan “Catat, Analisis, Cegah, Selamatkan, dan Laporkan”.
"Data sisa pangan yang terkumpul selanjutnya menjadi bahan monitoring dan evaluasi sekaligus mendukung pengambilan kebijakan dalam memperkuat ketahanan pangan di Kota Tanjungpinang," ujarnya.
Ia menekankan dalam pelaksanaannya, setiap unsur memiliki peran masing-masing. Pemerintah daerah memperkuat kebijakan dan koordinasi, PKK serta RT/RW melakukan edukasi kepada keluarga dan masyarakat, kemudian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mendukung pengelolaan sisa organik, sementara Diskominfo mendukung kampanye dan publikasi.
Di sisi lain, hotel, restoran, katering, dan pelaku pariwisata didorong untuk mengurangi sisa pangan dari aktivitas usahanya.
Robert berharap Gerakan Tanjak Pangan tumbuh menjadi gerakan kolaboratif yang dimulai dari keluarga, sekolah, tempat kerja, dunia usaha, hingga lingkungan masyarakat. Dengan perubahan kebiasaan sehari-hari, upaya mengurangi pemborosan pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
"Mulai hari ini, mulai dari piring kita. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi," demikian Robert.