Keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan dalam prospek pergerakan harga.

Untuk perkiraan harga, Andi menyebut emas saat ini berada di kisaran Rp2,5 juta per gram. Jika naik dalam dua bulan terakhir tahun ini, harganya diperkirakan berpotensi mencapai Rp2,7 juta hingga Rp2,8 juta per gram.

Mengenai pilihan emas fisik atau digital, Andi mengatakan keduanya bergantung pada preferensi dan kemampuan keuangan investor. Emas fisik cocok bagi mereka yang ingin memegang aset langsung, tetapi pembeliannya membutuhkan dana lebih besar jika dilakukan sekaligus.

Sementara itu, emas digital menawarkan kemudahan transaksi, tidak memerlukan tempat penyimpanan fisik, dan memungkinkan pembelian dengan nominal lebih terjangkau.

Dalam kondisi geopolitik dan ekonomi yang dinilai semakin tidak stabil, Andi cenderung menyarankan emas fisik bagi investor yang memiliki dana memadai. Alasannya, aset tersebut dapat disimpan dan diakses secara langsung tanpa bergantung pada layanan digital.

Untuk strategi pembelian, Andi menyarankan investor menggunakan metode cost averaging, yakni membeli emas secara bertahap sesuai kemampuan keuangan. Misalnya, investor dapat mengalokasikan dana untuk membeli satu gram emas setiap bulan agar kepemilikannya terkumpul secara bertahap.

"Strateginya masih sama, paling tidak kita bisa melakukan cost averaging. Jadi membeli emasnya sedikit demi sedikit saja, sesuai kemampuan kita," ucap Andi.

Ia menyarankan investasi emas dilakukan dalam jangka panjang, setidaknya tiga tahun, dapat diperpanjang hingga lima tahun atau lebih sebelum investor merealisasikan keuntungan.

Jadi Pendamping Aset Berisiko Tinggi. (Foto: Istockphoto/ Ipopba)

Perencana Keuangan Oneshildt Budi Rahardjo menjelaskan emas memiliki karakteristik likuid dan nilainya cenderung meningkat dalam jangka panjang. Harganya juga relatif stabil, bahkan sering kali meningkat ketika kondisi ekonomi memburuk.

Namun, Budi mengingatkan sebagai aset yang dipengaruhi permintaan dan penawaran, harga emas tetap dapat berfluktuasi dalam jangka pendek.

Budi mengatakan emas dapat digunakan sebagai pendamping instrumen berisiko tinggi seperti saham. Pergerakan emas umumnya memiliki korelasi negatif dengan instrumen yang cenderung tumbuh ketika iklim ekonomi membaik. Dengan demikian, kepemilikan emas dapat membantu menyeimbangkan risiko dalam portofolio investasi.