"Emas biasanya berkorelasi negatif dengan instrumen yang memiliki karakteristik bertumbuh saat iklim ekonomi baik seperti saham, sehingga cocok sebagai pendamping aset berisiko tinggi sebagai penstabil portofolio," jelasnya.
Dalam menentukan apakah akan menjual atau mempertahankan emas, Budi menyarankan investor melihat kebutuhan dana dan alokasi aset.
Jika dana dibutuhkan dalam waktu dekat, investor dapat mengalihkannya ke instrumen yang lebih stabil. Sebaliknya, apabila dana tersebut masih disiapkan untuk kebutuhan jangka panjang, emas dapat tetap dipertahankan.
Penjualan emas juga dapat dilakukan sebagai bagian dari rebalancing portofolio, yakni penyesuaian kembali komposisi aset agar tetap sesuai dengan profil risiko investor.
Terkait bentuk investasi, Budi melihat emas fisik dan digital sama-sama memiliki kelebihan. Emas fisik dapat diakses langsung ketika terjadi gangguan jaringan internet, tetapi investor perlu memperhatikan keamanan penyimpanannya. Sementara, emas digital menawarkan kepraktisan dan fleksibilitas transaksi.
Karena itu, investor dapat menyesuaikan pilihan keduanya dengan kebutuhan dan tujuan keuangan masing-masing.
Untuk jangka waktu investasi, Budi menyarankan investor menyiapkan periode minimal tiga hingga lima tahun apabila ingin memperoleh keuntungan dari kenaikan harga emas. Ia juga menyarankan pembelian rutin melalui cost averaging, yang dapat dikombinasikan dengan pembelian lebih banyak ketika harga mengalami koreksi.
"Untuk mendapatkan harga terbaik maka dapat memanfaatkan strategi cost averaging, yaitu membeli emas secara teratur dan berkala. Boleh dikombinasikan dengan sedikit momentum, misalnya saat harga terkoreksi maka membeli sedikit lebih banyak daripada biasanya," tutur Budi.
Namun, ia mengingatkan investor tetap perlu memahami karakteristik instrumen yang dipilih dan melakukan riset sebelum menanamkan dana.
"Tidak ada investasi yang benar-benar aman, do your own research dan pahami benar-benar karakteristik dari instrumen investasi yang kita pilih," ujarnya.
Dengan demikian, emas masih dapat dilirik sebagai instrumen diversifikasi dan lindung nilai dalam jangka panjang, tetapi bukan berarti bebas dari risiko penurunan harga.
Di tengah gejolak ekonomi dan pasar keuangan, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dana, kemampuan keuangan, serta jangka waktu masing-masing investor.