NADIKABAR.COM — Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), emas kembali menjadi salah satu aset yang dilirik investor.

Ketidakpastian ekonomi dan gejolak pasar keuangan membuat aset lindung nilai seperti emas menarik perhatian. Namun, pergerakan harga logam mulia juga belum sepenuhnya stabil.

Harga emas Antam ukuran 1 gram, misalnya, sempat naik dari Rp2,540 juta pada Senin (26/10) menjadi Rp2,570 juta pada Rabu (28/10), sebelum turun selama dua hari berikutnya hingga mencapai Rp2,546 juta pada Jumat (30/10).

Lantas, in this economy, apakah emas masih layak dikoleksi?

Perencana keuangan menilai emas tetap dapat menjadi pilihan untuk menjaga nilai aset dan mendiversifikasi portofolio dalam jangka panjang.

Meski demikian, investor perlu memperhitungkan harga beli, potensi keuntungan, kebutuhan dana, serta jangka waktu investasi sebelum memutuskan untuk membeli, mempertahankan, atau menjual emas.

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan emas masih layak dilirik karena secara historis dikenal sebagai aset safe haven atau tempat berlindung ketika kondisi ekonomi tidak menentu. Emas juga dapat digunakan untuk menjaga nilai uang dalam jangka panjang.

"Emas itu merupakan safe haven, jadi sebagai lindung nilai dari nilai uang kita. Jadi masih tetap bisa dilirik," kata Andi kepada NadiKabar.com, Jumat (30/10).

Menurut dia, minat masyarakat Indonesia terhadap emas juga masih tinggi. Hal itu menjadi salah satu faktor yang dapat menopang harga emas. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat harga emas selalu naik karena pergerakannya tetap dipengaruhi kondisi pasar.

Terkait keputusan mempertahankan atau menjual emas, Andi menyarankan investor menghitung keuntungan berdasarkan harga buyback. Pasalnya, harga jual kembali emas umumnya sekitar 10 persen lebih rendah dibandingkan harga ketika konsumen membelinya.

Karena itu, investor perlu memastikan harga jual kembali sudah lebih tinggi daripada harga beli sebelum melakukan profit taking atau merealisasikan keuntungan.

"Namun, misalnya tidak ada kebutuhan untuk uang dananya segera digunakan, tidak ada salahnya juga untuk tetap di-hold. Karena memang kita gunakan sebagai salah satu bentuk lindung nilai mata uang kita," jelas dia.

Andi juga memperkirakan harga emas masih bergerak terbatas hingga akhir 2026. Ia melihat pergerakan sepanjang tahun ini cenderung sideways atau stagnan, bahkan sempat mengalami penurunan.

Keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan dalam prospek pergerakan harga.

Untuk perkiraan harga, Andi menyebut emas saat ini berada di kisaran Rp2,5 juta per gram. Jika naik dalam dua bulan terakhir tahun ini, harganya diperkirakan berpotensi mencapai Rp2,7 juta hingga Rp2,8 juta per gram.

Mengenai pilihan emas fisik atau digital, Andi mengatakan keduanya bergantung pada preferensi dan kemampuan keuangan investor. Emas fisik cocok bagi mereka yang ingin memegang aset langsung, tetapi pembeliannya membutuhkan dana lebih besar jika dilakukan sekaligus.

Sementara itu, emas digital menawarkan kemudahan transaksi, tidak memerlukan tempat penyimpanan fisik, dan memungkinkan pembelian dengan nominal lebih terjangkau.

Dalam kondisi geopolitik dan ekonomi yang dinilai semakin tidak stabil, Andi cenderung menyarankan emas fisik bagi investor yang memiliki dana memadai. Alasannya, aset tersebut dapat disimpan dan diakses secara langsung tanpa bergantung pada layanan digital.

Untuk strategi pembelian, Andi menyarankan investor menggunakan metode cost averaging, yakni membeli emas secara bertahap sesuai kemampuan keuangan. Misalnya, investor dapat mengalokasikan dana untuk membeli satu gram emas setiap bulan agar kepemilikannya terkumpul secara bertahap.

"Strateginya masih sama, paling tidak kita bisa melakukan cost averaging. Jadi membeli emasnya sedikit demi sedikit saja, sesuai kemampuan kita," ucap Andi.

Ia menyarankan investasi emas dilakukan dalam jangka panjang, setidaknya tiga tahun, dapat diperpanjang hingga lima tahun atau lebih sebelum investor merealisasikan keuntungan.

Jadi Pendamping Aset Berisiko Tinggi. (Foto: Istockphoto/ Ipopba)

Perencana Keuangan Oneshildt Budi Rahardjo menjelaskan emas memiliki karakteristik likuid dan nilainya cenderung meningkat dalam jangka panjang. Harganya juga relatif stabil, bahkan sering kali meningkat ketika kondisi ekonomi memburuk.

Namun, Budi mengingatkan sebagai aset yang dipengaruhi permintaan dan penawaran, harga emas tetap dapat berfluktuasi dalam jangka pendek.

Budi mengatakan emas dapat digunakan sebagai pendamping instrumen berisiko tinggi seperti saham. Pergerakan emas umumnya memiliki korelasi negatif dengan instrumen yang cenderung tumbuh ketika iklim ekonomi membaik. Dengan demikian, kepemilikan emas dapat membantu menyeimbangkan risiko dalam portofolio investasi.

"Emas biasanya berkorelasi negatif dengan instrumen yang memiliki karakteristik bertumbuh saat iklim ekonomi baik seperti saham, sehingga cocok sebagai pendamping aset berisiko tinggi sebagai penstabil portofolio," jelasnya.

Dalam menentukan apakah akan menjual atau mempertahankan emas, Budi menyarankan investor melihat kebutuhan dana dan alokasi aset.

Jika dana dibutuhkan dalam waktu dekat, investor dapat mengalihkannya ke instrumen yang lebih stabil. Sebaliknya, apabila dana tersebut masih disiapkan untuk kebutuhan jangka panjang, emas dapat tetap dipertahankan.

Penjualan emas juga dapat dilakukan sebagai bagian dari rebalancing portofolio, yakni penyesuaian kembali komposisi aset agar tetap sesuai dengan profil risiko investor.

Terkait bentuk investasi, Budi melihat emas fisik dan digital sama-sama memiliki kelebihan. Emas fisik dapat diakses langsung ketika terjadi gangguan jaringan internet, tetapi investor perlu memperhatikan keamanan penyimpanannya. Sementara, emas digital menawarkan kepraktisan dan fleksibilitas transaksi.

Karena itu, investor dapat menyesuaikan pilihan keduanya dengan kebutuhan dan tujuan keuangan masing-masing.

Untuk jangka waktu investasi, Budi menyarankan investor menyiapkan periode minimal tiga hingga lima tahun apabila ingin memperoleh keuntungan dari kenaikan harga emas. Ia juga menyarankan pembelian rutin melalui cost averaging, yang dapat dikombinasikan dengan pembelian lebih banyak ketika harga mengalami koreksi.

"Untuk mendapatkan harga terbaik maka dapat memanfaatkan strategi cost averaging, yaitu membeli emas secara teratur dan berkala. Boleh dikombinasikan dengan sedikit momentum, misalnya saat harga terkoreksi maka membeli sedikit lebih banyak daripada biasanya," tutur Budi.

Namun, ia mengingatkan investor tetap perlu memahami karakteristik instrumen yang dipilih dan melakukan riset sebelum menanamkan dana.

"Tidak ada investasi yang benar-benar aman, do your own research dan pahami benar-benar karakteristik dari instrumen investasi yang kita pilih," ujarnya.

Dengan demikian, emas masih dapat dilirik sebagai instrumen diversifikasi dan lindung nilai dalam jangka panjang, tetapi bukan berarti bebas dari risiko penurunan harga.

Di tengah gejolak ekonomi dan pasar keuangan, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dana, kemampuan keuangan, serta jangka waktu masing-masing investor.