Adapun stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog masih berada di angka 4,48 juta ton per 30 September 2026. Sementara, total salur CBP sepanjang tahun 2026 sampai akhir September telah mencapai total 2,73 juta ton.

Rinciannya antara lain realisasi penjualan beras program SPHP pada Januari-Februari yang 221,05 ribu ton. Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai September yang mencapai 828 ribu ton.

Ada pula realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,86 ribu ton dan bantuan pangan tahap kedua yang telah berjalan hingga 944 ribu ton. Terakhir, penyaluran bantuan bencana dan keadaan darurat 13,3 ribu ton dan golongan anggaran 63,9 ribu ton.

Apabila dikomparasikan terhadap September tahun 2025, total salur CBP naik hingga 245 persen dari 790,8 ribu ton pada September 2025, saat ini telah mencapai hingga 2,73 juta ton. Sementara, stok beras pemerintah di Bulog telah meningkat sebesar 14,8 persen dari 3,9 juta ton kala itu, saat ini menjadi 4,48 juta ton.

Terpisah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono memaparkan analisis beberapa penyebab fluktuasi harga beras yang terjadi di September 2026. Faktor cuaca menjadi pemicu kuat yang menyebabkan deklinasi produksi di dalam negeri.

"Untuk kenaikan harga beras pada bulan September 2026, ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan beras setelah berakhirnya masa puncak panen raya. Kemudian, juga ada kondisi kemarau yang lebih kering, terkait dengan adanya fenomena El Nino," kata Ateng.