NADIKABAR.COM β PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk memperkuat keamanan infrastruktur digital untuk mengantisipasi ancaman kejahatan siber yang semakin kompleks seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat dan dunia usaha terhadap konektivitas.
Pengamanan difokuskan pada jaringan dan perlindungan data yang ditransmisikan melalui infrastruktur digital.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji di Denpasar, Bali, Selasa, mengatakan konektivitas merupakan prasyarat utama dalam digitalisasi sehingga keamanan infrastruktur harus menjadi perhatian sejak awal.
βKetika kita berbicara tentang digitalisasi, prasyaratnya adalah konektivitas. Jadi, pertama-tama kita harus memastikan konektivitas itu aman,β ujar Seno.
Menurut dia, posisi Telkom dalam ekosistem keamanan digital berfokus pada pengamanan infrastruktur.
Dalam menjalankan peran tersebut, Telkom berkoordinasi dengan pemerintah, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sesuai kewenangan masing-masing.
Salah satu pendekatan yang perlu diperkuat adalah penerapan zero trust network protection.
Pendekatan ini menekankan akses ke jaringan dan sumber daya digital tidak boleh diberikan hanya berdasarkan lokasi atau status pengguna, melainkan harus melalui proses verifikasi yang sesuai.
Seno juga menyoroti pentingnya autentikasi multifaktor atau multi-factor authentication (MFA) untuk memperkuat pengendalian akses.
Penerapan lapisan verifikasi tambahan dapat membantu mengurangi risiko akses tidak sah ketika kredensial pengguna diketahui atau dicuri pihak lain.
βData yang melintas atau ditransmisikan juga harus diamankan,β katanya.
Selain teknologi, Seno menilai banyak insiden keamanan siber justru berawal dari kelalaian manusia dan lemahnya prosedur organisasi.
Pengguna yang tidak memahami modus penipuan digital, mengabaikan pembaruan sistem operasi, atau sembarangan mengeklik tautan dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan siber.
Risiko juga muncul ketika organisasi tidak segera mencabut hak akses pegawai yang telah mengundurkan diri atau vendor pihak ketiga yang sudah tidak bekerja sama. Akses yang masih aktif dapat dimanfaatkan untuk memasuki sistem dan melakukan penyalahgunaan.
βSebagian besar insiden sebenarnya bisa kita cegah dengan prosedur yang tepat dan perhatian yang memadai,β ujar Seno.
Karena itu, penguatan keamanan infrastruktur perlu disertai tata kelola akses yang disiplin, pembaruan perangkat lunak secara berkala, serta peningkatan kesadaran keamanan bagi seluruh pengguna.
Langkah-langkah tersebut menjadi bagian penting untuk memperkecil celah serangan sekaligus menjaga keandalan layanan digital.
Telkom menilai keamanan infrastruktur bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga membutuhkan konsistensi penerapan prosedur dan koordinasi antarpihak. Dengan pendekatan tersebut, konektivitas yang menjadi fondasi transformasi digital diharapkan dapat beroperasi secara lebih aman dan terpercaya.