NADIKABAR.COM — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) memperkuat partisipasinya dalam gerakan keberlanjutan global usai menerima sertifikat keanggotaan United Nations Global Compact (UNGC) pada Kamis (22/10). Selain itu, Telkom juga meluncurkan program Zero Waste to Landfill bersama Waste4Change di kawasan The Telkom Hub, Jakarta, guna mengintegrasikan prinsip keberlanjutan tata kelola dan operasional perusahaan.
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampaikan bahwa, keberlanjutan merupakan bagian penting dari transformasi perusahaan untuk membangun bisnis yang bertanggung jawab dan berdaya saing dalam jangka panjang. Hal ini diwujudkan melalui tata kelola yang konsisten serta langkah nyata, mulai dari efisiensi energi dan pengurangan emisi hingga pengelolaan sampah.
"Di TelkomGroup, keberlanjutan bukan hanya tentang memenuhi standar atau menjalankan inisiatif lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana prinsip-prinsip tersebut menjadi bagian dari strategi bisnis dan budaya kerja," ujar Nanang dalam keterangan tertulis, Jum'at (23/10/2026).
"Keanggotaan dalam UN Global Compact memperkuat arah kami untuk terus menerapkan praktik bisnis yang bertanggung jawab, sementara program Zero Waste to Landfill menjadi salah satu wujud nyata penerapannya di lingkungan kerja. Kami ingin memastikan bahwa transformasi menuju perusahaan yang berkelanjutan didukung oleh kebijakan, sistem, dan keterlibatan seluruh insan TelkomGroup," lanjutnya.
Melalui program Zero Waste to Landfill, Telkom menerapkan pemilahan sampah sejak dari sumber agar sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA). Program ini melibatkan karyawan, petugas housekeeping, dan Waste4Change dalam proses pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan sampah sesuai prosedur.
Langkah ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah serta Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 yang mendorong pemilahan sampah dari sumber berdasarkan kategorinya, yakni organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.
Pembatasan sampah yang dapat dibuang ke TPST Bantargebang turut menegaskan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumber. Dalam pelaksanaannya, Telkom bekerja sama dengan Waste4Change sebagai mitra pengelolaan sampah sejak 7 Oktober 2026.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, volume sampah di The Telkom Hub berkisar antara 14.604 kg hingga 30.334 kg per bulan, dengan jumlah tertinggi tercatat pada Februari.
Sebanyak 51% merupakan residu dan 32% sampah organik, sementara plastik dan kertas masing-masing menyumbang 7%. Komposisi ini memperlihatkan pentingnya pemilahan untuk mengoptimalkan proses pengolahan dan mengurangi sampah yang berakhir di TPA.
Chief Operating Officer Waste4Change, Ridho Malik Ibrahim, menjelaskan bahwa kerjasama ini bertujuan untuk mendorong pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi untuk membangun sistem pengelolaan sampah sekaligus mengubah perilaku di lingkungan kerja.
"Hari ini, kami bekerja sama dengan Telkom dalam program Zero Waste to Landfill untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, mulai dari pemilahan di sumber hingga meningkatkan potensi daur ulang. Kami mengapresiasi langkah Telkom Hub yang kini mulai mengalihkan pengelolaan sampah agar tidak lagi langsung berakhir di TPA. Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi sekaligus mendorong perubahan perilaku di lingkungan kerja," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Telkom menerima sertifikat keanggotaan UNGC yang diserahkan kepada Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno. Telkom tercatat sebagai peserta aktif UNGC sejak 16 Juli 2026 dan berupaya menerapkan Sepuluh Prinsip UNGC dalam strategi, budaya, serta kegiatan operasional perusahaan.
UNGC merupakan inisiatif keberlanjutan korporasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendorong perusahaan menerapkan Sepuluh Prinsip dalam empat bidang utama, yaitu hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan antikorupsi. Keanggotaan ini menjadi bagian dari upaya Telkom menyelaraskan praktik bisnis dengan prinsip-prinsip tersebut.
Executive Director UN Global Compact Network Indonesia Dr. M. Windrawan Inantha mengatakan, UNGC ini memiliki kerangka untuk mengintegrasikan tak hanya hak asasi manusia, tetapi juga ketenagakerjaan, lingkungan, dan antikorupsi dalam bisnis.
"Keberlanjutan perlu menjadi bagian dari strategi dan budaya kerja seluruh elemen perusahaan. Melalui UNGC, perusahaan memiliki kerangka untuk mengintegrasikan prinsip hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan antikorupsi ke dalam praktik bisnis. Inisiatif Telkom melalui Zero Waste to Landfill menjadi salah satu contoh bagaimana prinsip keberlanjutan lingkungan dapat diterjemahkan ke dalam langkah konkret serta mendorong praktik dan gaya hidup yang lebih bertanggung jawab di TelkomGroup," pungkasnya.
Di bidang lingkungan, TelkomGroup menjalankan strategi dekarbonisasi melalui Climate Transition Plan yang diluncurkan pada 2025 sebagai peta jalan menuju net zero emission pada 2060. Dalam jangka pendek, TelkomGroup menargetkan penurunan emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 20% pada 2030.
Pada 2026, The Telkom Hub juga telah mencapai net zero emission untuk emisi operasional Scope 1 dan Scope 2. Selain itu, TelkomGroup mendorong pemanfaatan energi terbarukan di berbagai lokasi operasional, pengembangan green data center, serta peningkatan efisiensi energi jaringan melalui penerapan Autonomous Network.
Langkah-langkah ini melengkapi upaya pengurangan dampak lingkungan dari aktivitas operasional perusahaan. Pengelolaan sampah di The Telkom Hub telah dimulai sejak Desember 2024 melalui penggunaan Reverse Vending Machine (RVM).
Inisiatif ini telah melibatkan lebih dari 900 pengguna dan mengumpulkan lebih dari 7 ton botol plastik untuk didaur ulang, sekaligus menghindari sekitar 38 ton emisi CO₂e. Program Zero Waste to Landfill memperluas upaya tersebut ke seluruh sampah perkantoran, dengan target memastikan tidak ada sampah dari The Telkom Hub yang berakhir di TPA.
Telkom mendorong keterlibatan seluruh karyawan dalam memilah sampah sebagai bagian dari kebiasaan kerja sehari-hari sehingga praktik di The Telkom Hub diharapkan dapat direplikasi kantor-kantor TelkomGroup lainnya. Melalui penerapan prinsip UNGC, dekarbonisasi, dan pengelolaan sampah terintegrasi, Telkom terus mengembangkan operasional lebih bertanggung jawab sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.