NADIKABAR.COM — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Bandung (ITB) mendampingi warga Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Keladen, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, mengolah singkong menjadi tepung mocaf untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian setempat.

Pendampingan tersebut menjadi salah satu upaya pengembangan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat setelah tanaman pisang kepok yang sebelumnya menjadi andalan ekonomi warga terserang jamur sejak 2025.

"Waktu harga singkong mulai turun, singkong hanya dijual dalam bentuk mentah. Kita baru kenal mocaf sekarang, di saat harga singkong anjlok. Setelah diolah, semoga harganya bisa meningkat," kata warga UPT Keladen, Partini, berdasarkan keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Selama ini, singkong yang melimpah di kawasan transmigrasi tersebut umumnya dijual dalam bentuk mentah dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram.

Melalui pengolahan menjadi tepung modified cassava flour (mocaf), yakni tepung singkong hasil fermentasi, komoditas tersebut diharapkan memiliki nilai jual lebih tinggi, masa simpan lebih panjang, sekaligus menjadi alternatif bahan pangan bagi masyarakat.

Untuk mengembangkan potensi tersebut, TEP ITB memberikan pelatihan pembuatan mocaf kepada kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta warga UPT Keladen, Kecamatan Batu Engau.

Dalam pelatihan itu, warga mempelajari proses pengolahan singkong mulai dari pemotongan, perendaman dalam air yang diberi ragi selama dua hari, penjemuran hingga kering, sampai penghalusan menjadi tepung.