Seluruh proses menggunakan peralatan sederhana yang tersedia di rumah tangga, antara lain pisau, ember, terpal, dan nyiru, sehingga dapat dipraktikkan kembali oleh masyarakat.
Tepung yang dihasilkan memiliki tekstur halus dan tidak berbau singkong. Warga juga langsung memanfaatkan hasil pengolahan tersebut untuk membuat adonan gorengan sebagai contoh penggunaan mocaf dalam makanan sehari-hari.
Anggota TEP ITB Indri Nurhidayah mengatakan pengolahan mocaf berpotensi membuka kegiatan ekonomi baru sekaligus membantu masyarakat memenuhi kebutuhan bahan pangan tanpa sepenuhnya bergantung pada tepung terigu yang harus diperoleh dari pasar.
"Tepung mocaf tidak hanya mempunyai potensi ekonomi, tetapi juga mempunyai potensi sebagai alternatif tepung terigu yang sulit diperoleh warga UPT karena jarak tempuh ke pasar yang jauh," ujar Indri.
Menurut dia, teknik pengolahan yang sederhana memungkinkan warga mengembangkan singkong menjadi produk unggulan desa dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di kawasan transmigrasi.
"Selain itu, pengolahannya cukup mudah dan peserta pelatihan sangat antusias untuk mengembangkan tepung mocaf sebagai salah satu produk unggulan di desa mereka," ucapnya.
Sebagai tindak lanjut, hasil olahan tepung mocaf telah dipamerkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa Keladen sebagai bagian dari upaya menjadikannya produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) desa.