Temenggung Sub-suku Kerambay, Mustadin, menegaskan bahwa unsur adat komunitasnya tetap terpelihara meskipun belum memperoleh pengakuan formal.
"Sub-suku ini lengkap semua. Kami punya norma adat yang dituliskan, punya situs-situs budaya, tetapi sampai sekarang belum ada pengakuan sama sekali," ujar Mustadin.
Untuk mendukung proses tersebut, TEP UI mendokumentasikan sejarah, bahasa, norma adat, kelembagaan, wilayah, harta kekayaan, situs, dan ritus budaya melalui penelusuran lapangan serta dialog dengan tokoh adat dan tetua masyarakat. Hasil dokumentasi tersebut dapat menjadi bahan bagi pemerintah daerah untuk menelaah kondisi masyarakat adat dan menentukan tindak lanjut sesuai ketentuan hukum.
Di Entikong, pendokumentasian juga penting karena sejumlah wilayah desa berada dalam kawasan hutan negara, sementara masyarakat telah lama bermukim dan mengelola wilayahnya secara turun-temurun. Dokumentasi ini diharapkan dapat membuka ruang dialog mengenai keberadaan masyarakat adat, kondisi wilayah, dan kebutuhan pengelolaannya.
TEP UI 2026 melibatkan lima akademisi lintas disiplin dari Universitas Indonesia dan Universitas Tanjungpura. Selain identitas budaya, tim juga mengkaji penguatan hak atas tanah serta promosi komoditas lokal melalui indikasi geografis.
Upaya ini sejalan dengan pandangan Presiden Prabowo Subianto tentang keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Dalam sambutan pada Puncak Peringatan Hari Tri Suci Waisak 2570 BE, Minggu (31/5/2026), Presiden menyampaikan, "Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagamannya. Kita memiliki latar belakang suku, agama, budaya, dan tradisi, serta adat yang berbeda-beda."
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa Ekspedisi Patriot harus menghasilkan solusi nyata. Hal itu disampaikannya saat berdialog dengan peserta ekspedisi di Jayapura pada pertengahan September 2026.