NADIKABAR.COM — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (Undip) membekali 120 siswa di kawasan transmigrasi Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan, dengan pendidikan kesehatan lingkungan untuk mencegah penyakit seperti diare, tengkes, dan kulit.
Kementerian Transmigrasi menyatakan TEP Undip memberikan edukasi kepada siswa di dua sekolah dasar (SD) dan dua sekolah menengah pertama (SMP) dengan menggunakan kartu permainan, poster, serta modul bergambar.
"Dalam program ini, kami menghadirkan modul pencegahan penyakit berbasis lingkungan hingga stunting," kata Ketua TEP Undip Yusniar Hanani dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Sabtu.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sebanyak 120 siswa mempelajari kebiasaan hidup bersih dan sehat, pemilahan serta pengolahan sampah, pencegahan tengkes, hingga penyakit yang berkaitan dengan lingkungan tidak sehat.
Yusniar mengatakan materi tersebut disampaikan melalui metode pembelajaran interaktif agar siswa lebih mudah memahami sekaligus menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
"Kami tidak hanya memberikan materi, tetapi juga praktik interaktif menggunakan media seperti flashcard agar siswa dapat langsung mencocokkan jawaban serta berkomitmen menjaga lingkungannya," ujar dia.
Kementerian Transmigrasi menyebut warga kawasan transmigrasi Tempirai Selatan masih menghadapi keterbatasan akses air bersih dan pengelolaan sampah sehingga masyarakat, terutama anak-anak, rentan terhadap diare, cacingan, dan penyakit kulit.
Sementara itu, guru SDN 2 Penukal Utara Yeni mengatakan metode pembelajaran tersebut membantu siswa memahami persoalan lingkungan sekaligus membangun kepedulian sejak dini.
"Saya sangat mendukung adanya program ini karena tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa untuk peduli pada lingkungan sekitar," ucap Yeni.
Seorang siswa SDN 3 Penukal Utara sekaligus warga kawasan transmigrasi, Kharir, mengatakan metode belajar sambil bermain membuat kegiatan tersebut lebih menarik untuk diikuti.
"Kelas belajarnya seru karena aku bisa belajar sambil bermain. Terima kasih kakak-kakak TEP Undip, tetap semangat untuk mengajar," ungkap Kharir.
Program tersebut juga sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap pendidikan lingkungan sejak usia sekolah.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto pada 26 Agustus 2026 menekankan perlunya kemajuan pendidikan, termasuk terkait lingkungan kepada anak muda dan pelajar.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam sejumlah kesempatan juga telah menekankan temuan TEP di lapangan perlu ditindaklanjuti menjadi solusi yang relevan, dapat dilaksanakan, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menegaskan pengembangan kawasan transmigrasi harus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan lingkungan serta budaya masyarakat setempat.
"Pembangunan kawasan harus berkelanjutan. Tidak ada yang instan. Pembangunan juga tidak boleh mengabaikan lingkungan dan budaya masyarakat setempat," kata Iftitah pada 11 Agustus 2026.
Kementerian Transmigrasi pada September 2026 mengevaluasi 246 program TEP yang melibatkan 1.476 peserta dalam 246 tim dan bertugas di 53 kawasan transmigrasi.
Program TEP juga telah menghasilkan sekitar 400 keluaran yang diarahkan untuk ditindaklanjuti menjadi aksi nyata di kawasan transmigrasi. Data resmi Kementerian Transmigrasi mencatat 1.476 peserta TEP 2026 terdiri atas 39 guru besar, 158 doktor, 263 magister, dan 1.016 sarjana dari 10 perguruan tinggi.